Khotbah Tanpa Pergulatan: Ketika Mimbar Diserahkan kepada Akal Imitasi
Beberapa tahun terakhir, sebuah pemandangan ganjil melintasi ruang-ruang sakral kita. Di New York, seorang rabbi menyampaikan khotbah yang begitu runtut, menyentuh, dan diakhiri dengan tepuk tangan jemaat. Namun, kehangatan itu mendadak luntur saat ia mengakui bahwa seluruh naskah tersebut seratus persen ditulis oleh ChatGPT. Di Jerman, sebuah gereja melangkah lebih ekstrem dengan menggelar ibadah yang hampir seluruh komponennya dirancang oleh kecerdasan buatan (AI). Peristiwa-peristiwa tesebut adalah alarm. Perkembangan teknologi tidak lagi hanya mengetuk pintu ekonomi, pendidikan, atau ruang siber. Ia sudah berani mengetuk pintu mimbar dan ruang refleksi iman.
Bagi para pelayan pastoral, AI memang menawarkan sebuah kepraktisan yang menggiurkan. Cukup masukkan beberapa kata kunci di sela-sela padatnya agenda paroki, lalu klik. Dalam hitungan detik, draf homili yang rapi, terstruktur, dan meyakinkan sudah siap pakai. Referensi Kitab Suci disajikan instan sebelum secangkir kopi di meja kerja sempat dingin. Bagi seorang pastor yang harus melayani rentetan misa dalam satu akhir pekan, atau katekis yang jadwal pembinaannya padat merayap, tawaran ini tentu sulit ditolak.
Namun, mari kita jujur . Persoalan utamanya bukan pada boleh atau tidaknya menggunakan teknologi. Sejarah mencatat Gereja tidak pernah memusuhi sains. Dari mesin cetak Gutenberg hingga era media sosialnya Zuckerberg, berbagai penemuan manusia selalu diadopsi demi penyebaran Injil. Tantangan sesungguhnya jauh lebih intim yaitu, apa yang terjadi pada jiwa kita ketika proses bergulat dengan iman perlahan-lahan diserahkan pada baris-baris kode algoritma?
Dalam tradisi Kristiani, mimbar bukanlah panggung pertunjukan retorika. Khotbah bukanlah komoditas bahasa yang dirancang sekadar agar pendengar terpukau. Sebuah homili yang hidup, pada hakikatnya, adalah sebuah kesaksian hidup. Namun ketika seorang imam berbicara tentang harapan di tengah badai, umat sebetulnya tidak butuh kuliah teologi yang rumit. Mereka ingin mendengar gaung suara dari seseorang yang juga pernah babak belur melawan rasa putus asa, namun berhasil menemukan fajar bersama Tuhan. Kekuatan pesan seorang katekis tentang belas kasih muncul justru karena ia sendiri pernah terluka, dan disembuhkan oleh belas kasih tersebut.
Homili yang menggerakkan hati tidak pernah lahir dari kepala yang sekadar pintar. Ia ditempa oleh lutut yang bertelut dalam doa yang panjang, oleh malam-malam sepi yang penuh pergulatan batin, dan oleh perjumpaan nyata dengan umat yang menangis atau berharap.
Kadang, khotbah yang baik justru muncul dari kegelisahan yang belum selesai, atau dari keheningan yang memberi ruang bagi Sabda untuk menegur si pengkhotbah sendiri sebelum dilemparkan ke orang lain.
Orang Jawa punya ungkapan sederhana yang sangat mengena yaitu ngelmu iku kalakone kanthi laku. Pengetahuan sejati itu hanya bisa diraih lewat proses yang dijalani, bukan sekadar ditumpuk sebagai informasi. Iman pun bertumbuh lewat laku atau lewat jatuh bangunnya doa, kesetiaan pada hal-hal kecil, kegagalan, pertobatan, dan perjumpaan riil sepanjang hidup.
Di sinilah batas mutlak kecerdasan imitasi. AI bisa melahap jutaan dokumen tentang pertobatan, tapi ia sendiri tidak pernah tahu rasanya menangis memohon ampun. Ia bisa merangkai kalimat puitis tentang penderitaan dengan sangat presisi, tapi ia tidak pernah duduk diam menggenggam tangan seorang ibu yang sedang berduka di samping peti mati anaknya. AI bekerja dengan kalkulasi data biner, bukan dengan detak jantung kehidupan. Bahasa iman mungkin bisa ditiru dengan sempurna, tetapi pengalaman iman tidak akan pernah bisa disimulasikan.
Hal ini pulalah yang digarisbawahi dalam dokumen Vatikan, Antiqua et Nova. Gereja mengingatkan bahwa AI bagaimanapun adalah produk buatan manusia, bukan penggantinya. Teknologi ini tidak memiliki kesadaran diri, kebebasan memilih, apalagi tanggung jawab moral. Konsekuensinya sangat jelas, tanpa keheningan untuk membaca dan keberanian untuk bergulat secara pribadi, mimbar kita perlahan akan berubah fungsi. Ia hanya akan menjadi pusat distribusi informasi keagamaan yang kering mungkin benar secara teori dan doktrin, tetapi kehilangan daya untuk mengubah hidup orang.
Inilah jebakan era efisiensi yang menawarkan banyak jalan pintas. Mengapa harus memeras otak berjam-jam kalau aplikasi bisa menyediakannya dalam sekejap mata? Pertanyaan praktis ini perlahan-lahan mengikis hal paling sakral dalam kehidupan rohani yaitu proses itu sendiri. Alon-alon waton kelakon, filosofi Jawa ini sering kali disalahartikan sebagai glorifikasi atas kelambanan atau kemalasan. Padahal, esensi aslinya adalah sebuah seruan untuk berhati-hati, menjaga kesadaran penuh (mindfulness), dan menghargai setiap jengkal proses demi mencapai kualitas hasil yang utuh. Tidak semua hal berharga di dunia ini bisa didapatkan dengan tergesa-gesa. Ada kedalaman yang hanya bisa lahir dari kesabaran dan kesetiaan pada proses.
Paus Fransiskus, dalam pesannya mengenai wisdom of the heart, sempat menyoroti risiko dunia modern saat ini yang kaya secara teknologi namun miskin secara kemanusiaan karena kehilangan kemampuan untuk merenung dalam-dalam. Kebijaksanaan hati inilah yang
menjaga agar manusia tetap menjadi tuan atas teknologi, bukan sebaliknya. Di atas mimbar pastoral, AI boleh saja membantu kita mencari referensi literatur atau tata bahasa, tetapi ia tidak boleh merebut ruang doa kita. Pergulatan batin tidak bisa diprogram. Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan umat bukanlah hanya kata indah dari sang pengkhotbah, melainkan bukti iman yang otentik. Yang mereka cari adalah keselarasan antara ucapan di mimbar dan kehidupan nyata.
Khotbah yang sejati bukan lahir dari kecanggihan perangkat, melainkan dari sebuah perjumpaan yang hidup. Selama iman masih berbicara tentang rahmat, kasih, dan pertobatan, akan selalu ada ruang sakral yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh algoritma mana pun. Karena pada akhirnya, perjumpaan manusia dengan Penciptanya bukanlah perkara tumpukan data, melainkan misteri hidup yang harus dijalani, dihayati, dan disaksikan.
Dum Spiro Spero.
Oleh: Fr. Christophorus Ivoni Navyanto





Komentar