Dilema Yoab: Kesetiaan Profesional versus Ketaatan pada Kehendak Belas Kasih
- fr. Bima Laiyanan

- 1 hari yang lalu
- 3 menit membaca
Diperbarui: 21 jam yang lalu
Tetapi Yoab berkata: "Aku tidak mau membuang-buang waktu dengan kau seperti ini." Lalu diambilnyalah tiga lembing dalam tangannya dan ditikamkannya ke dada Absalom, sedang ia masih hidup di tengah-tengah dahan pohon tarbantin itu. (2 Sam. 18:14).
Renungan Puncta Meditationis atas 2 Sam. 18:9-10,14b,24-25a,30 - 19:3
Kisah kematian Absalom bukan sekadar drama politik keluarga Daud. Di dalamnya, ada cerminan tentang arti kesetiaan sejati, yang diuji dalam ketegangan antara efisiensi, ketaatan formal, dan kehendak hati yang berbelas kasih.Ā

Poin 1: Setia pada Simbol Bergengsi vs. Persona Tuhan
Yoab setia pada takhta Daud sebagai simbol kekuasaan dan stabilitas kerajaan. Sebagai panglima tertinggi, dia rela melakukan apa pun untuk menyelamatkan simbol tersebut. Tindakannya tidak main-main, yakni membunuh Absalom secara brutal dan melupakan pesan Raja Daud sebelumnya, "Perlakukanlah Absalom, orang muda itu sebaik mungkin demi aku."Ā Ā
Posisi panglima tertinggi adalah suatu tugas bergengsi. Menurut filsuf Platon, serdadu dan panglima perang menyimbolkan semangat membara (bhs. Yunani, thumos), hasrat berperang, keberanian, kemarahan, dan pengakuan. [1] Seseorang yang mengendalikan thumos dirinya akan bertindak seturut amarah dan pencarian kehormatan. Inilah penyebab mengapa Yoab tidak segan-segan membunuh Absalom dan berkata keras,Ā "Aku tidak mau membuang-buang waktu dengan kau seperti ini."
Namun, Raja Daud justru menghendaki belas kasih. Bukannya setia pada diri dan harapan rajanya, Yoab malah lebih pilih "setia" pada simbol dan status bergengsinya sebagai panglima kepercayaan.
Pertanyaan refleksi: Dalam hidup berkomunitas atau pelayanan, kapan terakhir kali saya lebih memilih mempertahankan hal bergengsi dengan mengorbankan perhatian pada saudara-saudari yang lemah atau tersingkir?"
Poin 2: Setia pada Kehendak Allah vs. Sekadar Profesional.Ā
Yoab bedakan kesetiaan personal pada raja dan tanggung jawab profesionalnya sebagai panglima perang. Baginya, kesetiaan menekankan tiga hal penting, yakni efisiensi dan efektivitas dengan mengakhiri pemberontakan secepatnya dan bertanggung jawab secara rasional sebagai panglima. Ia memisahkan sama sekali tugas dari amanat hati rajanya.
Kita mungkin seperti Yoab, yakni memisahkan apa yang jadi kehendak Allah (yang termanifestasi lewat Daud yang berbelas kasih) dengan sekadar tuntutan tugas kita. Apakah kesetiaan pada-Nya dan profesionalitas tidak memiliki "jembatan"? Ingatlah kata populer Bunda Teresa dari Kalkuta, "Allah tidak menuntut kita jadi sukses, namun setia." Kesetiaan kita harusnya terarah pada pengenalan akan maksud Allah dalam segala tanggung jawab kita. Kita mungkin sering lupa bertanya, "Tuhan, apa maksudmu atas peristiwa ini? Apa sesungguhnya yang Engkau hendaki untuk kuperbuat?" Dalam pengalaman yang tampak menyenangkan, "biasa-biasa saja", menjengkelkan, hingga menyedihkan, coba kita tanya itu pada Tuhan.
Pertanyaan refleksi: "Jadilah kehendak-Mu" adalah doa kesetiaan tertinggi dalam Bapa Kami. Kita diandaikan terus bertanya, "Apa yang Tuhan kehendaki dalam situasi konkritku saat ini?," bahkan ketika jawabannya tidak efisien, efektif, atau tidak masuk akal secara profesional.
Poin 3: Relasi dengan Allah sebagai Sumber Pertimbangan Keputusan yang Setia.Ā
Keputusan untuk mengejar Absalom memang perlu, namun tindakan membunuh Yoab ternyata bukan hasil yang diharapkan Raja Daud. Kesedihan Daud menganalogikan Allah yang berbelas kasih dan bisa saja berkehendak berbeda dari manusia.Ā
Adakalanya keputusan kita belum tentu sejalan dan berkenan kepada Allah. Keputusan kita biasanya didasarkan pada hal yang tampaknya masuk akal saja, efektif, dan efisien. Ketiga kriteria itu menggambarkan apa yang disebut kepastian. Kepastian adalah patokan mudah utk kita dan kita merasa "cukup." Acuan kepastian adakalanya bukan pada kedalaman relasi dengan Allah, tapi dari "kriteria duniawi." Obsesi pada kepastian bisa mendatangkan "berhala" pada kepastian, bukan dari apa maksud terdalam Tuhan untuk kita. [2]
Lalu, bagaimana kita mengetahui kehendak Allah? Di sinilah kita masuk dalam misteri iman. Iman bukanlah jalan penuh kepastian. Keyakinan bahwa kita pasti tahu kehendak Tuhan bisa menjadi berhala yang justru menjauhkan kita dari Dia. Seperti dikatakan dalam Kardinal Lawrence (Ralph Fiennes) di film Conclave (2024),
āKepastian adalah musuh mematikan dari toleransi. Bahkan Kristus pun tidak yakin pada akhir hayat-Nya. āAllahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?ā Ia berteriak dalam penderitaan-Nya di salib. Iman kita adalah sesuatu yang hidup, justru karena ia berjalan beriringan dengan keraguan. Jika hanya ada kepastian dan tidak ada keraguan, maka tidak akan ada misteri. Dan oleh karena itu, tidak ada kebutuhan akan iman.ā [3]

Penutup Kedalaman relasi dengan Allah bukanlah jaminan kita akan selalu pasti, tetapi jaminan bahwa kita dapat berjalan dalam ketidakpastian bersama dengan Dia.
Referensi
1. Bdk. Chad Jorgenson, The Embodied Soul in Plato's Later Thought, 23, 31, 35.
2. Bdk. Gregory A. Boyd, Benefit of the Doubt: Breaking the Idol of Certainty, 67.
3. Conclave (2024) - Quotes - IMDb, https://www.imdb.com/title/tt20215234/quotes/








Komentar