top of page

Pelita yang Redup

Diperbarui: 21 jam yang lalu

Saya membagi renungan ini menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah buah permenungan dari ayat 21-23. Bagian kedua adalah buah permenungan dari ayat 24-25. Ayat 21-23 mengajak kita untuk mendengarkan perumpamaan tentang pelita. Pada zaman Yesus, Pelita adalah alat penerang yang umum dipakai oleh orang Yahudi. Meskipun, terangnya redup, tetapi cukup untuk menghalau kegelapan malam. Perumpamaan ini mengingatkan saya akan Yohanes 1:5 “Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan tidak akan menguasainya”. Terang dalam ayat ini mengibaratkan Sabda Tuhan. Dalam refleksi pribadi, saya menyadari, bahwa Sabda tidak boleh hanya tinggal dalam diri sendiri, tidak boleh hanya tinggal dalam buku yang kita sebut Kitab Suci. Sabda itu harus dibagikan. Dalam khotbah pagi ini. Rm Purbo mengingatkan kita untuk menjaga dan menghidupi sabda itu. Saya ingin melanjutkan refleksi itu. Setelah menghidupi dan menjaga Sabda yang kita terima, agar berbuah, Sabda itu harus dibagikan. Saya menyadari membagikan sabda tidak hanya berkhotbah dan berkoar-koar. Cara paling sederhana adalah memberi teladan hidup. Indikatornya, ketika orang yang melihat kita dan berkata “Ohh, dia Katolik, Ohh dia membaca Kitab Suci…”

Berkaitan dengan permenungan pertama, permenungan kedua adalah “soal tolak ukur”. Saya membayangkan, ketika kita melihat orang yang tidak bersih dalam mengepel lantai, apa yang kita rasakan?. Mayoritas akan berpikir “gimana sih ngepel lantai aja ga bisa”. Akan tetapi, apabila saya sendiri yang tidak mengepel sampai bersih, betapa mudahnya memaafkan diri sendiri. Dalam refleksi saya berkaitan dengan ayat 24-25, Yesus mengecam orang-orang yang tidak percaya kepadanya, dengan kata lain tidak punya tolak ukur kasih. Orang kerapkali menggunakan tolak ukur pribadi yang bisa terjatuh pada keegoisan. Betapa relevan nya ayat ini dalam hidup sehari-hari. Apakah aku memaafkan orang yang tidak bisa membersihkan lantai dengan baik?, apakah aku bisa mencintai pribadinya, meskipun membenci perbuatannya. Paus Fransiscus pernah berkata “Bencilah perbuatannya tetapi cintai pribadinya. Bukankah buah Sabda ini sungguh indah bila ada dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita mohon memohonkan 2 rahmat ini. Pertama, Menjadi terang bagi sesama karena sabda yang kita terima. Kedua. mempunyai tolak ukur kasih.

Tuhan memberkati.


Oleh : Fr. Vincentius Aditya Manubowo

Bacaan : Markus 4:21-25


Gambar: Ret-ret CPT 2026
Gambar: Ret-ret CPT 2026


Komentar


bottom of page