"Kita dipegang-Nya dalam kabut"
- Seminari Tinggi KAJ

- 4 Des 2025
- 3 menit membaca
Oleh : Fr. Ignatius Tegar Cakrabuana Pagasing
Bacaan : Yesaya 48:17-19
Halo saudara-saudari terkasih,
Permenungan dan punctum yang ingin coba saya bagikan kepada saudara-saudari, yaitu mengenai kepercayaan penuh kepada rencana Allah dalam menghadapi ketidakpastian dalam hidup.
Kehidupan manusia berada dalam kabut ketidakpastian. Segala sesuatu dapat terjadi dalam hidup kita, entah itu pengalaman yang baik dan membahagiakan, maupun pengalaman buruk yang mengecewakan dan membuat kita terpuruk. Hal ini merupakan sebuah kewajaran dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Dalam menghadapi kabut ketidakpastian dalam kehidupan manusia, kita perlu menyerahkan diri dan memiliki kepercayaan kepada apa yang sudah direncanakan oleh Allah untuk hidup kita. Dengan menaruh kepercayaan kepada rencana Allah, maka kita mampu menghadapi kesulitan dan kabut ketidakpastian dalam hidup kita. Namun apakah itu akan menjadi sebuah hal yang mudah dan gampang untuk dilakukan? Hal ini bisa dilakukan, namun tidak akan menjadi sesuatu yang mudah.
Dalam kitab suci, banyak contoh dari karakter-karakter yang menghadapi ketidakpastian dalam hidup dengan menaruh kepercayaan kepada Allah. Abraham yang diminta oleh Tuhan Allah pergi dari tanah kelahirannya menuju ke negeri yang dijanjikan oleh Allah kepadanya. Dalam permenungan saya, Abraham tentu akan merasa gundah dan gelisah dalam menghadapi tuntutan dan permintaan yang diberikan oleh Tuhan. Dia harus meninggalkan semua yang ia miliki, ia harus meninggalkan comfort zone yang ia punya dan berjalan ke sebuah ketidakpastian. Walaupun begitu, ia tetap mempercayai apa yang direncanakan oleh Allah. Di tanah yang diberikan oleh Allah kepada Abraham, Abraham diberkati oleh Tuhan, ia dituntun oleh Tuhan, dan hidupnya dipenuhi kebahagiaan. Pengalaman iman ini tidak hanya terjadi dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam hidup manusia zaman sekarang, termasuk keluarga saya.
Dalam pengalaman hidup keluarga saya pun, kepercayaan penuh kepada kehendak Allah selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan keluarga saya. Dalam setiap nasihat yang diberikan oleh orang tua saya, mereka selalu menekankan untuk memiliki kepercayaan kepada kehendak Allah, karena pengalaman-pengalaman yang mereka alami dapat terselesaikan dengan memiliki kepercayaan kepada Allah. Dalam situasi terjepit dan susah, akan selalu datang pertolongan dari Allah kepada orangtua saya.
Dalam perjalanan rohani kita sebagai calon imam dan pelayan umat, saya rasa sikap ini menjadi penting. Di tengah pergulatan batin, kejenuhan, kekecewaan, rasa tidak layak, maupun kebingungan akan masa depan, kita diajak untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apakah aku masih percaya bahwa Allah bekerja, bahkan ketika aku tidak melihat apa pun?
Percaya kepada rencana Allah memang tidak mudah. Dalam permenungan saya, kita cenderung ingin merencanakan hidup kita sedetail mungkin agar semuanya berjalan sesuai keinginan dan tentu tidak akan mudah bagi kita untuk percaya sepenuhnya seperti yang Abraham lakukan. Namun, yang mungkin dapat kita lakukan adalah bersedia berjalan selangkah demi selangkah bersama Allah.
Kepercayaan itu tidak lahir dalam sekejap mata. Kepercayaan itu, dalam permenungan dan pengalaman saya bersama keluarga, bertumbuh perlahan ketika kita berani mengambil satu langkah kecil bersama Dia setiap hari. Allah tidak selalu memberikan kepastian bahwa hidup kita akan mulus dan bebas dari kesedihan, tetapi Ia selalu memberikan penyertaan dan berkat kepada siapa pun yang mengikuti rencana dan kehendak-Nya. Dalam setiap kabut yang menghalangi pandangan kita, Dia tetap berjalan di samping kita, memegang tangan kita, dan tidak pernah meninggalkan kita sendirian.
Semoga kita semua diberi rahmat untuk tetap setia, tetap berharap, dan tetap percaya bahwa rencana Allah selalu lebih besar, lebih indah, dan lebih penuh kasih daripada yang mampu kita bayangkan dan rencanakan. Semoga hidup kita menjadi kesaksian bahwa Allah tidak pernah mengecewakan mereka yang menaruh harapan kepada-Nya. Dan kiranya kita sungguh percaya bahwa setiap langkah, bahkan langkah yang terasa gelap dan tidak pasti, kita sedang dituntun oleh Allah menuju kebaikan yang telah Ia sediakan bagi kita.









Komentar