"Barangsiapa Haus, Hendaklah Ia Datang Kepada-Ku"
- Seminari Tinggi KAJ

- 6 menit yang lalu
- 2 menit membaca
Bacaan : Yoh 7:37–39
Saudara-saudari yang terkasih,
Mungkin teman-teman pernah merasakan hari yang penuh kegiatan, ada pelayanan, pertemuan, memimpin doa, membantu sesama. Dari luar, semuanya berjalan baik. Tapi malam itu, ketika semuanya selesai dan sepi, ada rasa yang sulit diberi nama. Bukan sekadar lelah. Lebih dalam dari itu. Semacam kosong. Yesus berbicara tepat dari titik itu.
Saya teringat sebuah catatan di buku refleksi saya di Mertoyudan. Romo pamong saya pernah menulis bahwa kangen itu tanda adanya relasi yang baik. Maka kalau kita merasa rindu kepada Tuhan, itu justru menandakan bahwa kita punya relasi yang nyata dengan-Nya. Dan kehausan itu sendiri, rasa kurang, rasa kosong yang kadang kita rasakan, bukan tanda kegagalan. Justru itu tanda kejujuran. Dan kejujuran adalah awal dari segalanya.
"Barangsiapa haus, hendaklah ia datang kepada-Ku." Yesus tidak berkata: barangsiapa sudah siap, barangsiapa sudah cukup baik, barangsiapa tidak punya masalah. Ia memanggil yang haus. Kita ini haus, tapi kita sering tidak mengakuinya. Sebagai calon imam maupun imam, kita terbiasa menjadi tempat orang datang. Terbiasa memberi. Terbiasa tampak kuat. Lama-lama, mengakui bahwa diri sendiri pun haus terasa seperti kelemahan — bahkan seperti pengkhianatan terhadap panggilan. Maka yang terjadi, kita terus melayani, terus berfungsi, tapi dari dalam sebenarnya sedang menguras diri sendiri. Doa menjadi rutinitas. Pelayanan menjadi kewajiban. Kita masih bergerak, tapi tidak lagi mengalir.
"Dari dalam hatinya akan mengalir aliran air hidup." Air itu mengalir bukan dipompa dengan keras, bukan dipaksakan keluar. Ia bergerak dengan sendirinya, dari dalam, ketika kita terhubung dengan sumbernya. Tapi untuk itu, kita harus lebih dulu datang dan minum. Bukan pura-pura cukup. Ekaristi kita sadari sebagai kebutuhan yang nyata, bukan sekadar kewajiban, bukan mengisi orang lain dari tangki yang kosong. Yohanes mencatat: "Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh." Artinya, yang mengalir dari kita bukan hasil usaha keras kita sendiri. Ia adalah karya Roh yang bergerak justru ketika kita cukup rendah hati untuk mengakui: aku tidak cukup, aku butuh Engkau. Saya teringat perkataan seorang imam: "Jika ada hal baik dalam diri saya, percayalah itu dari Tuhan. Jika ada hal buruk, percayalah itu dari saya."
Maka pada hari Pentakosta ini, kita senantiasa mohon kehadiran Roh Kudus dalam setiap langkah, tugas, karya, dan pelayanan kita. Tugas kita sederhana, tetap datang, tetap minum bukan sekali, tapi terus-menerus. Sadar bahwa kita selalu haus, dan karena itu harus selalu terhubung dengan sumbernya.
Apakah hidupmu hari-hari ini terasa seperti mengalir, atau seperti memeras diri sendiri? Kapan terakhir kali kamu datang kepada Tuhan, bukan untuk melayani atau berdoa karena harus tapi benar-benar hanya untuk minum?
Oleh :Fr. Jacobus Raka Graditya Putra





Komentar