"BERIMAN DALAM GELAP "
- Seminari Tinggi KAJ

- 1 hari yang lalu
- 3 menit membaca
Bacaan : Markus 10:46-52
Saudara-saudara yang terkasih,
Saya memulai puncta ini dengan sebuah pertanyaan kekaguman yang muncul ketika saya membaca kisah ini: Bagaimana Bartimeus yang buta bisa memiliki iman yang begitu besar kepada Yesus? Pertama, Ia tidak pernah melihat Yesus, tidak tahu wajah-Nya seperti apa, dan tentu belum pernah menyaksikan secara langsung mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya. Satu-satunya cara Bartimeus mengenal Yesus adalah lewat cerita orang-orang di sekitarnya. Pada zaman itu, kabar menyebar dari mulut ke mulut, dan dari semua cerita yang ia dengar, tumbuh keyakinan dalam hatinya bahwa Yesus adalah Pribadi yang mampu mengubah hidupnya.
Iman Bartimeus yang lahir hanya dari “mendengar” itu membuatnya berseru, “Yesus, Putra Daud, kasihanilah aku!” Dan di situlah saya semakin kagum. Bartimeus bukan hanya percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkannya, tetapi ia juga percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan Allah. Ia mengenali Yesus sebagai Putra Daud, gelar yang menunjuk pada Sang Penyelamat yang dinubuatkan para nabi.
Di tengah keramaian, suara Bartimeus mungkin dianggap mengganggu. Orang-orang mencoba menyuruhnya diam. Tetapi Bartimeus justru semakin keras berseru kepada Yesus. Ia tidak membiarkan rasa malu, penolakan, ataupun keadaan dirinya menghalangi langkahnya untuk datang kepada Tuhan. Ketika Yesus memanggilnya, Bartimeus bahkan menanggalkan jubahnya mungkin satu-satunya milik yang ia punya dan sumber rasa amannya selama ini lalu berlari menuju Yesus. Seolah ia mau meninggalkan hidup lamanya dan menaruh seluruh harapannya hanya kepada Tuhan.
Dan ketika Yesus berkata, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau,” Bartimeus ternyata tidak pergi meninggalkan Yesus. Ia justru mengikuti-Nya. Di sinilah saya kembali merasa kagum dengan Anak Timeus karena Ia tidak datang kepada Tuhan hanya untuk meminta mukjizat, tetapi setelah menerima rahmat itu, ia memilih berjalan bersama Yesus.
Sering kali saya merasa diri saya berbeda dengan Bartimeus. Saat saya merenung, saya mendapati bahwa diri ini seringkali melupakan Tuhan ketika saya sedang bersukacita karena sesuatu yang saya dapatkan. diri ini juga rasanya terkadang tidak mengucap syukur ketika suatu pencapaian didapat. Saya bercermin dari Bartimeus, ternyata saya masih kurang bersyukur. Saya sudah begitu sering mendengar firman Tuhan, bahkan melihat begitu banyak penyertaan Tuhan dalam hidup. Namun, iman saya masih mudah goyah. Ketika doa belum dijawab, saya mulai kecewa. Ketika hidup terasa gelap, saya mulai ragu apakah Tuhan sungguh mendengar. Kadang saya juga datang kepada Tuhan hanya saat membutuhkan sesuatu, tetapi setelah semuanya baik-baik saja, saya kembali berjalan sendiri.
Gejolak inilah yang pernah saya alami ketika saya melanjutkan hari ketiga saya melaksanakan peregrinasi bersama salah satu rekan angkatan saya. disitu saya mulai mengeluh, saya mulai marah kepada Tuhan, kenapa ia membiarkan saya kehausan dan kepanasan, asam lambung naik karena belum makan. Tuhan seperti membiarkan saya sempoyongan di jalan tanpa arah dan tujuan selama tiga hari. Saya dan rekan saya juga sering nyasar karena salah baca map. Pada saat itu, saya menangis dalam diam. hanya keluar air mata tanpa bisa berteriak. malu teriak. malah disangka gila nanti. Tapi tiba tiba dalam hati saya muncul nyanyian yang sampai saat ini menjadi pegangan saya, yakni mzm 23. Saya nyanyikan dalam hati dan kemudian saya merasa muncul semangat baru dalam hati saya. saya merasa seperti diteguhkan, dan dalam hati tuhan seperti berbicara dalam diri saya,” jika saya tidak menyertai kamu, kamu tidak akan sampai di tahap seperti ini. Di situlah akhirnya saya menangis merasa bersalah karena telah berdosa sudah tidak percaya pada Tuhan.
Bartimeus mengingatkan kita bahwa iman tidak selalu lahir dari melihat, tetapi dari hati yang mau percaya. Mungkin kita pun pernah berada di posisi Bartimeus: merasa buta akan arah hidup, bingung menghadapi masa depan, atau lelah karena doa terasa belum terjawab. Tetapi kisah ini mengajak kita untuk tetap berseru kepada Tuhan dan percaya bahwa Ia mendengar, bahkan ketika dunia di sekitar kita mencoba membuat kita menyerah.
Refleksi:
Apakah aku sungguh menyerahkan setiap langkah hidupku kepada Tuhan?
Apakah aku tetap percaya saat doa-doaku belum dijawab?
Selama ini, apakah hubunganku dengan Tuhan hanya sebatas meminta?
Oleh :Fr. Anisius Roman Sebastian Hasugian





Komentar