top of page

Belajar Kerendahan Hati dari Rasul Paulus

Mari mohonkan rahmat kerendahan hati secara autentik.



A. Pengantar

Pada hari Kamis sampai Sabtu yang lalu (14-16 Mei), saya mengikuti Temu Dewan Legioner. Salah satu materi yang menarik bagi saya dari Pertemuan Dewan Legioner adalah sesi dari Bapa Uskup tentang moto imamat Bapa Uskup. Dalam pertemuan Dewan Senatus, Bapa Uskup menyampaikan sebuah pertanyaan yang tajam sekaligus menggugah bagi saya secara pribadi, yakni: apakah Rasul Paulus sungguh konsekuen antara apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan? Pertanyaan ini berangkat dari ungkapan Paulus dalam Kisah Para Rasul 20:19, “Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati.” Sekilas, kalimat itu terdengar indah dan rohani. Namun, Bapa Uskup mengajak kita untuk berefleksi bersama atas ungkapan Santo Paulus ini. Oleh karena itu, saya akan memberikan inspirasi bacaan hari Selasa dari Kisah Para Rasul.


B. Konteks Kisah Para Rasul 20:17-27

Konteks ungkapan dalam Kisah Para Rasul 20:17–27 adalah  Paulus sedang menyampaikan wejangan perpisahan kepada para penatua jemaat Efesus di Miletus. Ia sadar bahwa perjalanannya penuh tekanan dan kemungkinan besar ia tidak akan berjumpa lagi dengan mereka. Karena itu, ketika ia berbicara tentang kerendahan hati, air mata, dan banyak pencobaan, itu bukan sekadar ungkapan emosional. Itu adalah kesaksian hidup seorang rasul yang sungguh merasakan beratnya tanggung jawab pastoral.


Kerendahan hati Paulus tidak lahir dari situasi yang aman dan nyaman. Ia melayani di tengah penolakan, penderitaan, dan ketidakpastian. Namun, kerendahan hatinya bukan kelemahan atau ketiadaan pendirian. Sebaliknya, ia tampak justru dalam kesetiaan untuk terus melayani meski menghadapi banyak kesulitan.

 

C. Hal yang Mendukung Ungkapan Paulus tentang Kerendahan Hati

Hal ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Paulus dalam Filipi 2:5, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Kerendahan hati bukanlah sikap sopan atau gaya bicara yang halus semata, melainkan cara berpikir dan cara merasa seperti Kristus yang tidak mempertahankan kemuliaan-Nya, tetapi mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai wafat di kayu salib.


D. Pergulatan Paulus tentang Kerendahan Hati

Namun, ada sisi lain Paulus yang juga mempunyai ketegangan mengenai makna kerendahan hati. Dalam 2 Korintus 11:5, ia berkata, “Aku sedikit pun tidak kurang dari rasul-rasul yang tak ada taranya itu.”  Sekilas, ungkapan ini terdengar arogan. Tetapi pernyataan itu harus dibaca dalam konteksnya: Paulus sedang dalam situasi di mana dirinya direndahkan, kerasulannya dipertanyakan, dan pelayanannya tidak dihargai. Di situlah ia memilih untuk tidak diam. Karena diam dalam menghadapi ketidakbenaran bukanlah kerendahan hati, melainkan rendah diri.


Di sinilah pergulatan Paulus sebagai manusia dekat dengan pengalaman kita. Ia bukan pribadi yang seolah-olah sudah selesai tanpa konflik batin. Ia mengalami rasa tidak dihargai, dipertanyakan sebagai rasul, bahkan direndahkan. Namun, justru dari pengalaman itu, Paulus belajar membedakan antara rendah hati dan rendah diri. Tidak semua pembelaan diri adalah kesombongan, dan tidak semua sikap diam adalah kerendahan hati.


E. Pelajaran Untuk Kita

Pelajaran kerendahan hati dari Rasul Paulus ini sangat relevan bagi kita. Dalam hidup beriman, kita mudah berbicara tentang pelayanan dan kerendahan hati. Kata-kata itu sering terdengar dalam doa, rekoleksi, retret, maupun pertemuan komunitas. Namun, kerendahan hati tidak cukup hanya dibicarakan. Kerendahan hati harus diuji dalam hal-hal yang konkret.


Saya merasa bahwa seorang umat  beriman tidak cukup hanya terlihat suci dan kelihatan baik di hadapan komunitas. Kerendahan hati harus meresap ke dalam seluruh cara hidup: dalam disiplin, tanggung jawab, ketaatan kepada komunitas/keluarga, kesediaan untuk dikoreksi, dan keterbukaan untuk terus dibentuk. Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita untuk menata kembali motivasi dasar dalam panggilan. Kita dipanggil bukan untuk mencari posisi, pengakuan, atau rasa dihormati. Kita dipanggil untuk mempunyai hati yang semakin menyerupai Kristus dengan semangat pengosongan diri. Oleh karena itu, kerendahan hati harus menjadi habitus dalam hidup beriman, bukan hanya menjadi kata indah dalam doa atau refleksi.


F. Pertanyaan Reflektif

  1. Apakah aku menjalani tugas karena sungguh mencintai Tuhan atau karena ingin diakui?

  2. Ketika aku dikoreksi atau tidak dihargai, apakah aku langsung membela ego atau berani melihat apa yang sedang Tuhan bentuk dalam diriku?

  3. Apakah pikiranku semakin menyerupai Kristus yang rendah hati, atau masih dikuasai keinginan untuk bersikap egois?


Puncta: Selasa, 19 Mei 2026: Hari Biasa Pekan VII Paskah (P) 

Kis. 20:17-27; Mzm. 68:10-11.20-21; Yoh. 17:1-11a. 

 

Referensi

  1. Kurz, William S. “Kisah Para Rasul,” dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, diedit oleh Dianne Bergant dan Robert J. Karris. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

  2. Groenen, Cletus. Pengantar ke dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius, 1984.

bottom of page