Berhenti untuk Melihat
Bacaan: Markus 10:46-52
Saudara/i yang terkasih dalam Kristus,
Bacaan ini saya gunakan karena menarik untuk membayangkan bagaimana Yesus yang sedang berjalan menuju Yerikho, bersama para murid dan banyak orang, kemudian muncul seorang pengemis bernama Bartimeus yang ‘berteriak’ pada mereka. Semua orang menyuruh dia diam, tapi Yesus tidak menganggapnya sebagai gangguan. Ia justru berhenti dan memanggilnya. Setelah Bartimeus datang, Yesus bertanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”
Kalau kita berpikir secara praktis, persoalannya sudah jelas. Bartimeus buta. Solusinya sudah pasti, membuatnya melihat. Selesai. Tetapi Yesus tidak langsung melakukan itu. Ia bertanya terlebih dahulu. Yesus memberi ruang dan waktu kepada Bartimeus untuk menyatakan dirinya dan mengungkapkan isi hatinya.
Saat saya menerjemahkan bacaan ini dalam konteks formasi yang sedang kita jalani. Di sini saya melihat sesuatu yang penting dalam cara kita menjalankan pelayanan. Kita sering lebih mudah bertanya, “Bagaimana caranya supaya ini selesai?” Ada persoalan, kita pasti langsung mencari solusi. Pertanyaan “bagaimana” tentu penting. Kendati demikian, dalam terang injil hari ini rasanya ada kata tanya yang perlu hadir sebelum “bagaimana”, yaitu ‘siapa?’
Siapa orang yang sedang berhadapan dengan saya? Siapa yang sedang saya layani?
Setelah memahami konteksnya kita akan bisa mengerti,
Apa yang sedang ia alami? Apa yang ia butuhkan?
Karena ketika kita terlalu berfokus pada “bagaimana caranya…”, perhatian kita perlahan dapat bergeser dari pribadi ke persoalan. Orang yang seharusnya menjadi subjek dapat berubah menjadi objek dari pelayanan kita. Padahal ketika kita menyisipkan kata ‘siapa’ sebelum ‘bagaimana’, sebenarnya kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu mengembalikan manusia sebagai subjek.
Dia bukan lagi sekadar orang yang memiliki masalah, tetapi pribadi yang sedang berhadapan dengan kita. Ia memiliki pengalaman, kehendak, kebebasan, luka, harapan, dan caranya sendiri dalam memahami hidup. Sehingga, pelayanan tidak cukup hanya dengan menemukan solusi yang menurut kita paling benar. Kita juga perlu mendengarkan orang yang akan menerima solusi itu.
Di sinilah saya kira tantangannya menjadi semakin besar bagi kita sebagai calon imam, dan imam. Dengan segala pengetahuan, pengalaman, dan otoritas yang kita punya, kita akan dipercayakan tanggung jawab; yang mana semua itu baik dan memang dibutuhkan. Kendati demikian, justru karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap godaan untuk berpikir, “Gue lebih tau yang terbaik buat lo” Kita bisa begitu yakin terhadap solusi sampai lupa bertanya kepada orangnya. Kita bisa begitu sibuk mengatur pelayanan sampai lupa bahwa pelayanan itu sebenarnya ditujukan kepada sesama manusia yang rapuh; yang barangkali hanya butuh kehadiran dan perjumpaan langsung.
Saya percaya kita tidak menjadi frater atau imam supaya memiliki kuasa atas orang lain. Kita menerima tanggung jawab dalam Gereja supaya dapat melayani umat Allah. Maka otoritas bukanlah kebebasan untuk melakukan apa yang kita mau. Otoritas adalah tanggung jawab untuk menggunakan apa yang kita miliki demi kebaikan pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita.
Pada akhirnya, dengan menyelipkan ‘siapa’ sebelum ‘bagaimana’ bukan hanya berarti merubah cara mengambil keputusan. Ini adalah perubahan cara melihat sesama yang mengingatkan kita kembali untuk memanusiakan manusia; dengan hadir dan mengalami perjumpaan langsung. Sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus kepada Bartimeus.
Oleh: Fr. Leonardo Parulian






Komentar