Cuan-cuan Kecerdasan Buatan: Untung atau Buntung?
Kemajuan teknologi senantiasa memberikan stimulus dalam perekonomian baik itu secara makro ataupun mikro. Sejarah telah membuktikannya. Penemuan mesin cetak, mesin uap, jaringan rel kereta api, bom atom, komputer hingga gawai pintar menandai pergerakan sejarah menuju hal baru yang seakan-akan menjanjikan kesejahteraan untuk semakin banyak manusia.
Dunia menanggapi kemajuan teknologi itu dengan pelbagai sudut pandang. Tentu di awal kemunculannya, tidak sedikit yang mengganggap bom atom ataupun mesin cetak adalah buruk. Namun, hingga hari ini, kita patut bersyukur karena tanpanya, sejarah tidak akan mengantarkan kita pada relitas hari ini. Ranah baru semacam ini memberikan tantangan kepada kemanusiaan. Gereja tiada hentinya menggaungkan pentingnya martabat, sedangkan korporasi multinasional menganggap semua lumrah demi profit dan data. Lalu, manakah yang lebih utama, kesejahteraan demi manusia, atau manusia demi kesejahteraan?
Tulisan ini hendak merefleksikan dan mengulas secara ringkas dampak-dampak ekonomi untuk dunia dari kecerdasan buatan (AI). Dampak inilah yang hendak digarisbawahi, yaitu apakah dengan kehadiran kecerdasan buatan ini peradaban manusia menjadi sejahtera atau bukan. Lantas, dari pertanyaan itu, apakah kecerdasan buatan dapat ditempatkan pula sebagai tonggak sejarah seperti halnya teknologi-teknologi lain?
Sekilas Relasi Ekonomi dengan Kecerdasan Buatan
International Monetary Fund (IMF) memperkirakan investasi teknologi terkait AI menyumbang sekitar 0,5 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB Amerika Serikat pada 2025, dan investasi swasta AI global bisa melampaui $2 triliun pada 2026.1 Menyambung pernyataan itu, dalam World Economic Outlook Januari 2026, IMF menyebut adopsi AI yang lebih luas dapat menambah pertumbuhan global hingga 0,3 poin persentase pada 2026, dan 0,1–0,8 poin per tahun dalam jangka menengah, tergantung kecepatan adopsi dan kesiapan AI. McKinsey (2023) memperkirakan AI generatif bernilai setara $2,6–4,4 triliun per tahun pada 63 kasus penggunaan yang dianalisis, serta menaikkan produktivitas tenaga kerja 0,1–0,6% per tahun hingga 2040. Namun angka ini adalah potensi, bukan hasil terukur.2
1 IMF, Annual Report 2026 (“AI: Deployment and Disruption”) dan WEO Januari 2026.
2Laurie Sullivan, “McKinsey Analyses Economic Impact of Generative AI” 16 Juni 2023 https: //www. Mediapost
.com/ publications/ article/386315/mckinsey-analyzes-economic-impact-of-generative-ai.html, diakses 22 Oktober 2026 11.52 WIB.
Dari banyak pernyataan di atas, yang dikumpulkan dari IMF dan McKinsey, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan buatan merupakan peluang bisnis yang menjanjikan. Angka-angka fantastis mengumbar harapan bahwa perputaran ekonomi akan begitu besar dalam waktu-waktu ke depan. Hal ini cukup lumrah dijumpai dalam penelusuran dampak positif kecerdasan buatan di pelbagai situs. Sebab, kecerdasan buatan, dari pelbagai sisinya, masih di tahap pengembangan awal. Artinya, belum banyak data yang memunculkan kerugian atau profitnya secara pasti.
Dampak lain dalam perekonomian ditunjukkan terhadap dunia kerja. WEF Future of Jobs 2025 (survei lebih dari 1.000 penyedia kerja atau employer) memproyeksikan 170 juta peran baru dan 92 juta peran tergeser pada 2030, atau dengan demikian berarti bertambah 78 juta pekerjaan.3 Di Indonesia, analisis Kompas menyebut tingkat pengaruh yang terkena pekerja Indonesia terhadap AI lebih rendah daripada AS, dan Goldman Sachs memperkirakan sekitar 16%. Penyebabnya antara lain struktur ekonomi yang masih berbasis pekerjaan fisik.4 Namun rendahnya tingkat paparan juga berarti rendahnya peluang mendapat manfaat produktivitas.
Dengan demikian, dari data yang ditemukan, di samping profit dalam perspektif luas yang belum bisa dipastikan, terdapat risiko pergeseran dalam dunia kerja. Artinya, terdapat keahlian-keahlian yang berharga di masa lampau kehilangan nilainya ketika kecerdasan buatan menggantikan mereka sembari muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang mendukung transisi ini. Secara umum, kelebihan dari manfaat yang didapat, tidak dapat tidak, perlu mengorbankan kelebihan yang lampau hingga dalam artian ini adalah juga nilai kemanusiaan itu sendiri.
Untung atau Buntung?
Pelbagai akademisi memiliki perbedaan pendapat untuk ini. Ada yang setuju AI telah mengarahkan peradaban menuju kemajuan, dan ada yang tidak. Beberapa yang mendukungnya sebagai kemajuan adalah David (1990). Ia menjelaskan bahwa teknologi AI sudah ada jauh sebelum organisasi (atau institusi manapun) belajar merestrukturisasi diri untuk memanfaatkannya. Implikasinya, ketiadaan lonjakan produktivitas hari ini belum
3 World Economic Forum, “Future of Jobs Report 2025: 78 Million New Job Opportunities by 2030 but Urgent Upskilling Needed to Prepare Workforces” 8 Januari 2025 https://www.weforum.org/media/future-of-jobs-report-2025-78-million-new-job-opportunities-by-2030-but-urgent-upskilling-needed-to-prepare-workforces, diakses 22 Oktober 2026 12.02 WIB.
4 Satrio Pangarso Wisanggeni, Albertus Krisna, M Puteri Rosalina, “The Future Potential Opened by AI: Artificial intelligence or artificial intelligence promises great potential in the future, although there are still threats.” 28 Juni 2023, https://www.kompas.id/artikel/en-potensi-masa-depan-yang-terbuka-oleh-ai, diakses 22 Oktober
2026 12.22 WIB.
membuktikan bahwa AI tidak bernilai.5 Artinya, kenyataan saat ini bisa jadi hanya jeda implementasi. Lebih condong mengulas topik ketenagakerjaan, Autor, Chin, Salomons dan Seegmiller (2024) menemukan bahwa mayoritas pekerjaan saat ini berada pada spesialisasi baru yang muncul sejak 1940. Dalam bahasa para penulis, enam dari sepuluh pekerjaan sekarang belum ada pada 1940. Maka argumen historis terkuat untuk optimisme atas AI ialah pekerjaan baru bisa saja muncul. Namun ada catatan penting yang disampaikan penulis. Efek automasi yang mengikis permintaan tenaga kerja sebetulnya menguat dalam empat dekade terakhir, sedangkan efek augmentasi yang menaikkan permintaan tenaga kerja tidak menguat.6 Beberapa akademisi yang sepakat bahwa AI merupakan kemunduran, atau bahkan jebakan, misalnya Acemoglu dan Johnson (2023). Mereka menegaskan bahwa kemajuan tidak otomatis dan bergantung pada pilihan kita. Contohnya: seratus tahun pertama industrialisasi menghasilkan pendapatan buruh yang stagnan.7 Inilah kritik bahwa justru manusia kerap tak berkutik di hadapan teknologi. Pendapat dalam buku Power and Progress ini terbit sebelum 2
penulis ini mendapat Nobel Ekonomi pada 2024. Adapun kritik lain dari Frey dalam The Technology Trap (2019) yang menyatakan bahwa revolusi industri menghasilkan kemakmuran jangka panjang, tetapi dampak langsung mekanisasi menghancurkan banyak orang: pekerjaan berpenghasilan menengah menyusut, upah stagnan, pangsa pendapatan buruh turun, dan ketimpangan melonjak.8 Menurutnya, dampak buruk ini bergantung pada pengelolaan jangka pendek. Risiko lain disampaikan oleh Brynjolfsson dalam “the Turing Trap” (2022). Baginya, ada insentif berlebihan untuk automasi ketimbang augmentasi di kalangan ahli teknologi, eksekutif bisnis, dan pembuat kebijakan. Bila AI menggantikan dan bukan menambah tenaga kerja, risikonya adalah konsentrasi kekayaan dan kekuasaan.9 Sebaliknya, augmentasi menciptakan kapabilitas serta produk dan layanan baru, sehingga menghasilkan nilai jauh lebih besar.
5 Paul A. David, “The Dynamo and the Computer: An Historical Perspective on the Modern Productivity Paradox,” American Economic Review 80, no. 2 (1990), h. 357.
6 David Autor, Caroline Chin, Anna Salomons, dan Bryan Seegmiller, “New Frontiers: The Origins and Content of New Work, 1940–2018,” Quarterly Journal of Economics 139, no. 3 (2024), h. 1399. https://doi.org/10.1093/qje/qjae008.
7 Daron Acemoglu dan Simon Johnson, Power and Progress: Our Thousand-Year Struggle over Technology and Prosperity (New York: PublicAffairs, 2023), h. 5.
8 Carl Benedikt Frey, The Technology Trap: Capital, Labor, and Power in the Age of Automation (Princeton, NJ: Princeton University Press, 2019), h.113.
9 Erik Brynjolfsson, “The Turing Trap: The Promise & Peril of Human-Like Artificial Intelligence,” Dædalus 151, no. 2 (Spring 2022), h. 8, https://doi.org/10.1162/DAED_a_01915.
Refleksi Akhir
Gereja Katolik, memberikan pandangan yang cukup moderat yang membangun sikap di hadapan kecerdasan buatan. Menurut Antiqua et Nova, dokumen ini mengakui bahwa AI menjanjikan peningkatan produktivitas, tetapi pendekatan saat ini bisa mengurangi keterampilan pekerja. AI cenderung menempatkan mereka di bawah pengawasan otomatis, dan menjebak mereka pada tugas kaku dan berulang. Diingatkan juga bahwa AI sebaiknya tidak dipandang sebagai bentuk artifisial dari kecerdasan manusia, melainkan produk dari kecerdasan manusia. Ia hanya layak dipakai sebagai alat yang melengkapi kecerdasan manusia, bukan menggantikan kekayaannya.
Paus Leo XIV, melalui Magnifica Humanitas menanggapi tantangan teknologi baru sebagaimana Rerum Novarum menanggapi Revolusi Industri. Ensiklik ini menegaskan bahwa teknologi tidak pernah netral serta mencerminkan nilai pihak yang menciptakan dan mengendalikannya. Beliau ini juga mengkritik sistem yang mengutamakan efisiensi dan laba di atas kesejahteraan pekerja. Namun ensiklik tidak menolak perkembangan teknologi, melainkan menuntut pendekatan yang berpusat pada manusia.
Maka menjadi jelas bahwa kecerdasan buatan memberikan sesuatu yang baru dalam hidup manusia. Keraguan dan harapan atasnya perlu disikapi secara bijak. Ada bahaya bila terlena akan harapan keuntungan sebelum semua risikonya dikenali dengan seksama. Kecerdasan buatan menyediakan suatu janji kemajuan ekonomi sekaligus misteri yang belum menampakkan tanda nyata. Kesejahteraan yang dituju, hendaknya disiapkan dengan matang.
Oleh karena itu, tidak dapat disangkal bahwa kehadiran AI merupakan suatu tonggak sejarah. Kini kita memasuki fase baru selayaknya revolusi industri di masa lampau. Kebaruan inilah tantangan untuk merefleksikan kembali kemanusiaan kita serta mensyukuri kehidupan sebagai citra Allah. Kemanusiaan hendaknya menjadi pusat agar kesejahteraan itu bukan semata-mata demi teknologi.
Oleh: Fr. Fabian Adjie Anindito Aryyoguno






Komentar