“Menjadi Anak Kecil”
Bacaan: Markus 10 : 13 - 16
Halo sahabat-sahabat seperjalanan...
Bacaan yang saya pilih ini merupakan bacaan yang paling banyak menyentuh saya dalam refleksi dan permenungan beberapa hari lalu. Ada beberapa pilihan bacaan yang sudah saya siapkan untuk puncta malam ini sebenarnya, tetapi bacaan ini yang terus menggema di dalam hati dan pikiran saya. Begitu jelas terutama dalam kalimat: “Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”
Bacaan ini mungkin sudah sering kita baca atau dengar. Bacaan yang sering dikutip, meskipun mungkin pesannya terasa klise, tetapi bacaan ini yang pada akhirnya bisa menguatkan kita semua di sini. Tapi sebelumnya saya ingin bertanya: apakah di sini ada yang masih merasa dirinya sebagai anak kecil?
Anak kecil yang dimaksud dalam bacaan ini merupakan gambaran sikap yang kita perlukan untuk bisa masuk ke Kerajaan Allah. Anak kecil adalah gambaran sikap yang apa adanya, tidak berpura-pura, tulus, mudah memaafkan, dan memiliki sikap ketergantungan penuh kepada Bapa karena menyadari keterbatasannya.
Dalam konteks kehidupan kita di seminari, kita pun diharapkan dapat menjadi seperti anak kecil. Bukan menjadi kekanak-kanakan yang bertindak seenaknya lalu tidak bertanggung jawab, melainkan bersikap seperti anak kecil yang dikatakan oleh Yesus itu sendiri.
Kadang tanpa kita sadari, di seminari ini kita suka terjebak memakai "topeng". Kita ingin kelihatan selalu kuat, selalu siap, rohani banget, atau serba bisa di depan orang lain.
Contoh sederhananya saat ibadat pagi atau misa: badan kita mungkin masih capek, mash mengantuk, pikiran kosong, tapi kita pura-pura duduk tegap hanya karena ingin terlihat bagi di depan orang lain. Padahal, seorang anak kecil tidak pernah pusing soal pencitraan. Kalau lapar ya bilang lapar, kalau capek ya minta dipangku, dan kalau takut ya lari mencari perlindungan.
Menjadi seperti anak kecil di seminari berarti kita berani meletakkan gengsi. Berani jujur di hadapan Tuhan terutama saat kita sedang merasa kering (desolasi), ragu, atau lelah dengan dinamika harian.
Saat doa malam seperti ini, kita harus berani jujur pada Tuhan dan bilang: "Tuhan, jujur hari ini saya sebal sama teman saya," atau "Tuhan, malam ini saya lagi capek banget dan ragu sama jalan panggilan saya" tanpa perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Satu hal lagi yang menarik dari anak kecil adalah kemampuannya untuk mudah memaafkan dan move on.
Anak kecil kalau rebutan mainan, mereka bisa menangis sebentar, tapi lima menit kemudian sudah tertawa dan main bareng lagi. Tapi kita bagaimana? Dalam hidup komunitas kita di mana karakter kita saling bergesekan setiap hari, apakah kita punya hati yang selapang anak kecil untuk mudah mengampuni?
Panggilan kita ini terlalu berat jika hanya dijalani sendirian tanpa Tuhan. Begitu kita merasa bisa jalan sendiri tanpa bergantung pada Tuhan, di situlah kita perlahan kehilangan dinamika relasi yang tulus dengan Bapa.
Yesus tidak menunggu kita jadi sempurna dulu baru mau menerima kita. Dia memeluk dan memberkati anak-anak itu persis dalam keadaan mereka dengan kepolosan, keterbatasan, dan rasa percaya mereka yang total.
Sebelum kita beristirahat malam ini, mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing: Apakah kita sudah cukup berani bersikap apa adanya di hadapan Tuhan dan sesama, atau kita masih sibuk pura-pura kuat karena takut terlihat lemah?
Panggilan ini bukan tentang seberapa kuat kita berpura-pura, tapi seberapa berani kita mengandalkan Tuhan. Mari istirahat malam ini sebagai anak-anak yang dicintai Bapa-Nya.
Tuhan Yesus mencintai dan memberkati kita semua.
Amin.
Oleh: Fr. Yulius Christian Dhimas Arya Mahendra






Komentar