Magnifica Humanitas: Menjumpai Relasi Utuh dalam Kemajuan Zaman
Pengantar
Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan perubahan dan perkembangan kecerdasan buatan yang begitu pesat dan sudah masuk dalam kehidupan sehari-hari. Kecerdasan buatan lewat berbagai aplikasi dapat menulis esai, memecahkan soal bahkan menanggapi curhat dan keluh dan kesah dari orang dengan nada yang terdengar penuh empati. Lantas, pertanyaan yang muncul adalah jika kemampuan kognitif manusia dapat ditiru oleh kecerdasan buatan, bahkan dilampaui, dimana letak keunikan manusia?
Kegelisahan ini ditanggapi dengan positif oleh Gereja lewat hadirnya Ensiklik Magnifica Humanitas. Paus Leo XIV dalam ensiklik ini tidak menanggapi hadirnya kecerdasan buatan dengan ketakutan, melainkan melihatnya sebagai tanda zaman yang menuntut dialog mendalam dan kemampuan manusia untuk berdiskresi atas tawaran dari kemajuan teknologi ini. Kehadiran kecerdasan buatan saat ini perlu ditanggapi dengan lebih bijak, karena menolak teknologi secara total adalah sebuah kekeliruan. Namun, menerima kehadirannya tanpa kritik dan kesadaran dapat jauh lebih berbahaya.
Kreativitas yang Bertanggung Jawab
Ensiklik Magnifica Humanitas hadir dengan gagasan bahwa kreativitas manusia merupakan tanda partisipasi dalam karya penciptaan Allah yang masih terus berlangsung. Teknologi merupakan budaya yang lahir dari akal budi yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia dan dengan demikian teknologi semestinya dapat membantu kehidupan manusia. Tantangannya adalah kecerdasan buatan tidak memiliki kompas moral dan ia bekerja menurut “logika” mesin yang dapat keliru. Baik dan buruknya hanya diukur berdasarkan kemampuannya untuk membantu manusia. Padahal, kecerdasan buatan dapat menjadi baik jika menopang keteraturan dan berakibat buruk jika memfasilitasi ketidakadilan. Tanpa tanggung jawab, nilai, dan hati nurani manusia, kecerdasan buatan hanya menjadi alat dominasi ekonomi bagi segelintir pihak.
Kecerdasan buatan belajar dari data yang diberikan manusia lengkap dengan prasangka rasial, gender, ekonomi dan politik di dalamnya. Keputusan atau jawaban dari kecerdasan buatan hadir tanpa jejak logika yang bisa diperiksa bahkan oleh programmer-nya sendiri. Prinsip transparansi, tanggung jawab, keamanan ditekankan sebagai keutamaan yang perlu ada dalam kecerdasan buatan. Magnifica Humanitas menegaskan bahwa manusia diajak untuk menjadi pengambil keputusan moral yang terakhir karena manusia merupakan imago dei.
Relasi Manusia Otentik
Imago Dei merupakan ciri khas manusia karena akal budinya dan kemampuannya untuk mengambil keputusan sesuai hati nurani. Noreen Herzfeld menegaskan bahwa manusia sebagai citra Allah terletak pada kemampuannya untuk membangun relasi yang otentik. Sehebat apapun mesin, ia tidak memiliki kemampuan menjadi subjek di dunia. Kecerdasan buatan bisa meniru dan membuat simulasi persahabatan namun tidak sungguh-sungguh menjadi persona yang sungguh hadir bagi orang lain.
Relasi yang utuh dapat menjadi jawaban di tengah obsesi manusia modern yang mengabdikan dirinya pada kesempurnaan dan keabadian. Ensiklik Magnifica Humanitas mengingatkan manusia pada titik yang paling dasar bahwa kerentanan bukan kesalahan yang harus diperbaiki. Kelelahan, keterbatasan, dan kesadaran akan maut justru memampukan manusia untuk mencintai dengan bebas, berkorban dan mengampuni walaupun seringkali dianggap tidak rasional bagi logika teknologi. Namun, hal inilah yang memberikan makna secara spiritual bagi manusia karena relasi yang sejati adalah kemampuan untuk sanggup mencintai sekaligus menunjukan kerentanan kita sebagai manusia.
Menjaga Perjumpaan
Manusia modern saat ini makin banyak mengubur dirinya dalam kemudahan akses dan informasi dengan kecerdasan buatan. Beberapa di antaranya tenggelam dalam kehangatan chatting dengan bot yang selalu tersedia, tidak pernah lelah dan tidak pernah menolak. Relasi manusia justru melelahkan, penuh gesekan dan menuntut komitmen. Namun, di sinilah relasi manusia menjadi berharga. Jika manusia menukar perjumpaan yang penuh kerapuhan dengan simulasi sempurna dengan kecerdasan buatan, kita pada akhirnya menarik diri dalam isolasi yang egois. Gambaran ini berlawanan dengan hakikat Allah sebagai persekutuan kasih yang selalu terarah keluar kepada yang lain.
Maka, kecerdasan buatan sejatinya membantu untuk mempertemukan manusia dengan manusia yang lain dan bukan menggantikan manusia secara total. Berhadapan dengan kecerdasan buatan yang semakin pintar, tugas manusia bukan berupaya agar semakin efisien dan kaku seperti mesin. Tugas manusia ialah untuk terus belajar menjadi lebih utuh sebagai manusia.
Oleh: Primus Bryant Carrillo Cesman






Komentar