"Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih"
Bacaan: Matius 22 : 1 - 14
Halo sahabat-sahabat seperjalanan...
Perikop dalam Injil Matius ini, Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan yang tajam tentang Perjamuan Kawin. Menariknya, perjamuan itu sudah siap, undangan sudah disebarkan, tetapi ada satu bagian krusial yang menentukan apakah seseorang boleh tetap berada di dalam ruang pesta atau dilemparkan ke luar, yaitu pakaian pesta.
Ketika sang raja melihat seorang tamu yang tidak berpakaian pesta, ia bertanya "Sahabat, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?"Ā Tamu itu terdiam, tidak bisa menjawab, dan akhirnya diusir.Ā (Mat 22:12)
Saya merefleksikan Sebagai seorang katolik yang merupakan pengikut Kristus Injil ini berbicara sangat kuat bagi kita. Apakah kita sebagai seorang katolik sudah menggunakan āpakaian pestaā? Dalam refleksi saya āpakaian pestaā disini bisa kita artikan secara harafiah pakaian dan juga pembawaan diri kita yang tampak dari luar, yang bisa dilihat dari orang lain.
Kalau bisa dijabarkan, apa itu "pakaian pesta" bagi seorang katolik dalam kehidupan sehari-hari?
1. Kerapihan Diri dan Penampilan yang Baik
Seringkali kita terjebak atau merasionalisasiĀ bahwa "yang penting adalah hati, penampilan luar tidak masalah."Ā Namun, perumpamaan ini mengingatkan kita akan hal yang berbeda. Dalam Kehidupan sehari-hari dapat kita temukan bahwa banyak umat katolik pergi ke gereja dengan pakaian yang kurang cocok atau kurang layak untuk mengikuti ekaristi. Dalam Pedoman Umum Misale RomawiĀ (PUMR), Dokumen resmi Liturgi Gereja Katolik secara eksplisit mengatur tata cara dan norma perilaku umat saat merayakan Ekaristi. Pada artikel 42 menegaskan bahwa:Ā
"Sikap tubuh seluruh umat yang berhimpun, yang seragam dan dilakukan oleh semua peserta, merupakan tanda kesatuan para anggota jemaat yang berhimpun untuk liturgi kudus: sebab sikap tubuh mengungkapkan dan membina sikap batin para peserta."Ā
Dari dokumen tersebut bisa kita refleksian bahwa cara berpakaian dan sikap fisik adalah cerminan sikap batin. Jika hati kita menghormati kehadiran Kristus dalam Ekaristi, hal itu secara alami terwujud dalam cara kita berpakaian yang rapi dan pantas. Pakaian rapi yang kita kenakan bukan sekadar pakaian, melainkan tanda penghormatan kita kepada diri kita sendiri, kepada orang lainĀ dan bermuara kepada Tuhan yang kita cintai. Penampilan luar yang bersih, rapi, dan terawat mencerminkan kesiapan batin dalam mencerminkan Kristus dalam dunia.Ā Ā
2. Sikap kita sebagai Murid KristusĀ
"Pakaian pesta" kita sebagai orang beriman adalah sikap hidup kita sehari-hari.
Etika, tutur kata, ketepatan waktu, kejujuran, dan kesopanan kita baik di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat adalah 'busana' nyata yang dilihat dan dirasakan oleh sesama di sekitar kita. Hati yang mengasihi Allah harus terwujud dalam tindakan yang santunĀ Sebagai umat Katolik, jika kita memiliki pemahaman iman yang tinggi atau rajin berdoa, namun tidak memiliki etika dan kesopanan yang baik, kita ibarat tamu pesta yang menghadiri perjamuan Raja dengan pakaian yang kumal dan compang-camping.
Memang benar bahwa "Tuhan melihat hati, tetapi manusia melihat apa yang tampak di depan mata"Ā (bdk. 1 Samuel 16:7). Sebagai pengikut Kristus, kita tidak bisa memisahkan keduanya. Kebersihan hati dan kedalaman doa hendaknya memancar melalui kerapian, etika, dan kebaikan hidup yang tampak dari luar. Orang lain akan melihat Kristus yang hidup di dalam diri kita ketika kesaksian hidup sehari-hari dan kedalaman rohani kita berjalan beriringan.
Santo Yohanes PaulusĀ 2 melalui ajarannya dalam Teologi Tubuh :Ā
ā...tubuh manusia adalah kudus dan memiliki martabat yang sangat tinggi. Menjaga kerapian, kebersihan, serta kepatutan berpakaian adalah cara kita menghormati tubuh kita sendiri dan menghargai orang lain sebagai citra Allah (Imago Dei)ā.
Iman Kristen bukanlah iman yang abstrak di dalam hati saja. Iman yang benar akan terlihat pada penampilan luar kita.Ā
Bagaimana kita berbicara, bagaimana kita berpakaian secara sopan dan menghormati tubuh sebagai bait Roh Kudus, serta bagaimana kita bersikap dan menempatkan diri di tengah komunitas dan masyarakat adalah cerminan dari identitas kita sebagai warga Kerajaan Surga.Ā
Menjaga penampilan diri dan membawakan diriĀ berarti memastikan bahwa apa yang dilihat orang lain dari hidup kita memuliakan Allah, bukan mempermalukan-Nya. Ingatlah kata-kata penutup Yesus: "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih."Ā Semoga kita tidak hanya menjadi yang dipanggil, tetapi menjadi yang terpilih karena kita terus menjaga "pakaian pesta" panggilan kita dengan anggun dan setia.Ā
Sebuah pertanyaan refleksi untuk kita renungkan bersama:Ā
Sudahkah kita mengenakan 'pakaian pesta' terbaik kita dalam keseharian kita, ataukah kita masih sering meremehkan pentingnya āberpakaianā dan cara membawa diri dalam keseharian kita?Ā
Oleh: Fr. Kristoforus Arnold Andrianto Soedjadi






Komentar