top of page

Hanya Hadir, tetapi Berarti

20 menit yang lalu
2 menit membaca

Bacaan: Lukas 1 : 39 - 46


Teman-teman yang terkasih di dalam Kristus,


Saya kira hal yang paling mahal yang bisa kita berikan kepada orang lain adalah waktu dan diri kita sendiri. Mengapa hal ini mahal? Karena waktu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kita ulang kembali. Waktu akan terus bergerak maju, dan setiap momen yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa kita hadirkan kembali.


Berdasarkan pengalaman pribadi, sering kali kita berusaha mempertimbangkan di mana kita akan menghabiskan waktu kita. Dan seringkali, waktu yang kita miliki ingin kita gunakan untuk diri kita sendiri. Apalagi ketika kita sedang tidak baik-baik saja. Kalau kita memiliki pilihan untuk menolak, mungkin kita akan memilih untuk tidak memberikan waktu kita kepada orang lain, entah untuk bertemu ataupun sekedar menemani. Kecuali, mungkin, ketika hal tersebut juga memberikan suatu keuntungan bagi diri kita.


Bacaan Injil yang telah kita dengarkan pada malam hari ini memberikan gambaran yang berbeda. Maria diberitahu oleh Malaikat bahwa Elisabet sedang mengandung, maka Maria pergi kepadanya dan mengunjunginya.


Padahal kita tahu, dalam perikop sebelumnya, Maria baru saja menerima kabar dari Malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus Kristus. Tentu kita bisa membayangkan bagaimana perasaan Maria saat itu. Mungkin ada rasa takut, cemas, bingung, dan banyak pertanyaan dalam hatinya. Namun, di tengah segala perasaan itu, Maria tidak menutup diri. Ia justru pergi kepada Elisabet, saudarinya yang sedang membutuhkan kehadirannya.


Dan ternyata, kehadiran Maria bukanlah sesuatu yang sia-sia. Salam yang diberikan Maria membawa sukacita bagi Elisabeth, bahkan anak dalam kandungannya pun melonjak kegirangan. Maria hanya hadir, tetapi kehadirannya membawa sesuatu bagi orang lain.


Saya punya pengalaman ketika mengikuti Legio Maria. Saya melihat bagaimana banyak ibu-ibu dengan rela meluangkan waktunya untuk hadir dalam rapat Legio Maria. Kalau kita pikirkan, mungkin itu bukan pilihan yang mudah. Di tengah berbagai tugas, pekerjaan, keluarga, dan aktivitas lainnya, mereka masih menyempatkan diri untuk datang dan bertemu.


Dan saya merasa bahwa pertemuan itu bukan hanya sekedar pertemuan, karena berdasarkan sharing yang diberikan oleh para Ibu ibu itu Ada sesuatu yang lebih dari itu. Ada kegembiraan rohani yang muncul ketika kita berkumpul dan hadir bersama. Saya merasakan bahwa melalui kehadiran mereka, ada sukacita yang dihadirkan oleh Bunda Maria.


Dari sini saya belajar bahwa kehadiran kita mungkin terlihat sederhana bagi diri kita sendiri, seperti saya yang hadir mungkin hanya demi memenuhi sebuah kewajiban, namun ternyata hal itu menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. Kita mungkin merasa, ā€œSaya hanya datang,ā€ ā€œSaya hanya menemani,ā€ atau ā€œSaya hanya meluangkan sedikit waktu.ā€ Tetapi kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh orang lain melalui kehadiran kita.


Maka malam ini saya mengajak kita belajar dari Bunda Maria. Maria mungkin memiliki kecemasan dan ketakutannya sendiri, tetapi ia tetap memilih untuk hadir bagi Elisabet.


Begitu juga dengan kita. Mungkin kita sedang lelah atau memiliki banyak persoalan, tetapi mungkin yang dibutuhkan orang lain bukanlah sesuatu yang besar dari kita. Mungkin mereka hanya membutuhkan kehadiran kita.


Oleh: Fr. Petrus Daniellyanto



Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


bottom of page