top of page

"Doa dan Pertobatan"

Bacaan : T. Ester 4C:12-16.23-25a - Mat 7:7-12


Saudara-saudari yang terkasih,


Kisah mengenai Ester menempati latar waktu setelah Pembuangan Babel 587 SM. Sekitar 1 abad setelahnya, Babel dikalahkan oleh Persia sehingga sebagian orang Yahudi tinggal di daerah Persia. Meskipun sebagian dapat kembali ke Yerusalem, sebagian lain memutuskan tetap tinggal di Persia, termasuk Ester dan walinya Mordekhai. Pada waktu itu Ester diangkat menjadi ratu, tetapi identitasnya sebagai orang Yahudi tidak diketahui oleh orang banyak.

Suatu ketika, Raja Ahasweros mengangkat seseorang bernama Haman sebagai pembesar kerajaan. Maka semua orang diminta untuk sujud kepada Haman. Akan tetapi, Mordekhai tidak mau bersujud kepada Haman sehingga Haman merasa tersinggung. Kemudian diketahui bahwa Mordekhai adalah bangsa Yahudi. Maka, dengan beberapa intrik, Haman mengeluarkan surat atas nama Raja Ahasweros untuk memusnahkan bangsa Yahudi. Mendengar hal itu, Ratu Ester yang juga seorang Yahudi, memanjatkan doa yang kita dengar tadi kepada Tuhan.

Dalam persiapannya berdoa, Ratu Ester menanggalkan pakaian kebesarannya, mengenakan kain perkabungan, serta menaburi kepalanya dengan abu dan kotoran. Kemudian ia berdoa dengan sungguh-sungguh, meminta pertolongan dari Tuhan. Pada bagian selanjutnya, nanti teman-teman dapat membacanya sendiri, bagaimana akhirnya doa Ester dikabulkan Tuhan dan orang Yahudi di daerah Ahasweros tidak jadi dimusnahkan.

Injil yang akan kita dengar esok hari berkaitan dengan doa. “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Jika kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu di surga.”

Pada malam ini, mari kita merenungkan tentang doa. Khususnya dalam Masa Prapaskah, kita diajak untuk lebih tekun dalam doa, membangun pertobatan, dan membangun relasi yang lebih dekat dengan Tuhan. Dari kisah Ester, juga dari pengalaman hidup, kadang kita tidak tahu rencana Tuhan. Yang bisa kita lakukan adalah tekun berdoa. Bukan memaksakan kehendak, tetapi memohonkan pertolongan. Tidak mudah untuk setia dalam doa ketika menghadapi situasi sulit. Akan tetapi, selain berdoa, kita juga diminta untuk memiliki sikap kerendahan hati. Rendah hati mengakui ketidakberdayaan kita sebagai manusia, lantas berserah sepenuhnya pada penyelenggaraan dan rencana Allah. Kita diajak untuk percaya akan kasih Allah yang selalu ada dalam hidup kita, sekalipun kita seringkali sulit memahaminya.

Mari kita meneladan Ratu Ester, yang dalam situasi sulit tetap setia kepada Tuhan dan memohon pertolongan Tuhan sekalipun ia sendiri berada di negeri asing. Apabila kita pun sedang asing dengan Tuhan, komunitas, atau bahkan diri sendiri, maukah kita untuk tetap datang kepada Tuhan dan tekun dalam doa?


Pertanyaan Reflektif

  1. Bagaimana relasi pribadiku dengan Tuhan akhir-akhir ini?

  2. Rahmat apa yang perlu kumohonkan pada Tuhan agar menjadi lebih baik di Masa Prapaskah ini?


Doa Penutup: Mazmur 138


Oleh : Fr. Agustinus Budi Tjenggunawan




Komentar


bottom of page