top of page

Kecerdasan Buatan dan Martabat Manusia: Refleksi Teologis dalam Perspektif Marshall McLuhan

11 menit yang lalu
4 menit membaca

Pendahuluan


Pada suatu hari, seorang frater, sebut saja Frater N, menceritakan kepada teman-temannya tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam tugas kuliah. Ketika ditanya mengenai alasannya, Frater N menjelaskan bahwa AI memudahkannya dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh seorang pastor yang menolak penggunaan AI dalam pengerjaan tugas kuliah. Menurutnya, penggunaan AI dapat menyebabkan tulisan mahasiswa kehilangan autentisitas karena tidak lagi sepenuhnya mencerminkan pemikiran mereka. Bahkan, pastor tersebut menegaskan, “Kalau ketahuan mengerjakan tugas menggunakan AI, saya kasih nilai nol.” Ilustrasi tersebut memperlihatkan dua pandangan yang berbeda mengenai kehadiran AI dalam kehidupan manusia, khususnya dalam dunia pendidikan.

Di satu sisi, AI dipandang sebagai teknologi yang memberikan kemudahan dan dapat membantu manusia mengembangkan kreativitas. Di sisi lain, penggunaan AI menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya autentisitas, kemandirian berpikir, dan kreativitas manusia. Persoalan ini menarik untuk direfleksikan karena AI bukan lagi sekadar teknologi yang berada di luar kehidupan manusia, melainkan telah menjadi bagian dari aktivitas manusia sehari-hari. Kehadirannya memunculkan pertanyaan mengenai hubungan antara manusia dan teknologi yang diciptakannya.

Persoalan tersebut dapat dipahami melalui pemikiran Marshall McLuhan yang memandang teknologi sebagai perpanjangan kemampuan manusia (extensions of man). Dalam bukunya Understanding Media: The Extensions of Man, McLuhan mengemukakan “the medium is the message” yang menunjukkan bahwa pengaruh suatu teknologi tidak hanya terletak pada isi yang dihasilkannya, tetapi juga pada perubahan kehidupan  yang ditimbulkan medium tersebut (McLuhan, 1964, 23–24). Dalam konteks ini, AI tidak cukup dipahami hanya sebagai alat yang mempermudah pekerjaan manusia, tetapi juga sebagai medium yang berpotensi mengubah cara manusia berpikir, berkarya, dan memahami dirinya sendiri.

Bertolak dari persoalan tersebut, pertanyaan utama yang hendak direfleksikan dalam tajuk ini adalah: Apakah kehadiran AI sebagai medium baru justru mengancam autentisitas dan jati diri manusia, atau dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitasnya? Pertanyaan tersebut akan dikaji melalui perspektif Marshall McLuhan dengan menelaah hakikat AI sebagai medium teknologi dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Selanjutnya, refleksi teologis mengenai manusia sebagai imago Dei digunakan untuk memahami bagaimana manusia tetap menghayati martabat, kebebasan, kreativitas, dan tanggung jawabnya di tengah perkembangan AI.


AI sebagai Perpanjangan Kemampuan Pikiran Manusia


McLuhan menegaskan bahwa teknologi merupakan perpanjangan kemampuan manusia. Ia memberikan analogi bahwa teknologi elektronik merupakan perluasan dari sistem otak manusia. Dalam pemikiran McLuhan, suatu perkembangan teknologi mengarah pada kesadaran akan teknologi (McLuhan, 1964, 23–24). Meskipun gagasan McLuhan sebelum adanya AI. Akan tetapi, gagasan McLuhan ini bisa menjadi pemahaman AI sebagai teknologi yang memperluas kemampuan akal manusia. Khususnya membantu proses berpikir dan rekan diskusi manusia.

Gagasan yang menarik dari pemikiran McLuhan adalah bahwa teknologi tidak hanya memperluas kemampuan manusia, tetapi juga mengubah cara manusia menjalani kehidupannya. Ketika teknologi semakin memudahkan kehidupan manusia, manusia akan mengalami perubahan dalam cara berpikir dan bertindak. Dalam konteks teknologi AI, seseorang yang sebelumnya mencari sumber dari Google dan perpustakaan secara mandiri. Sekarang, proses mencari informasi dan jawaban secara singkat. Kemudahan dalam AI ini menimbulkan suatu pertanyaan: apakah manusia masih menjadi subjek yang aktif dalam proses berpikir atau justru menyerahkan diri kepada teknologi?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa manfaat atau mudarat dari AI ini tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Akan tetapi, bagaimana menggunakan teknologi AI tersebut? Dalam arti ini, AI dapat digunakan sebagai sarana pengembangan diri. Namun, di sisi lain, AI dapat menghambat kreativitas apabila manusia menggunakannya tanpa memberikan penilaian kritis. Dengan demikian, penggunaan AI ini tidak berarti membuat seseorang kehilangan autentisitas; persoalan dari AI adalah sejauh mana pribadi manusia yang menggunakan AI itu secara sadar dalam proses menghasilkan suatu karya.


Refleksi Teologis: AI dan Martabat Manusia


Dalam perspektif iman Kristiani, manusia diciptakan berdasarkan gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26-27). Pernyataan ini menegaskan bahwa pribadi manusia luhur mempunyai pribadi yang unik. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan bahwa manusia memiliki martabat sebagai pribadi yang mampu mengenal dirinya, memberikan dirinya secara bebas, dan membangun persekutuan dengan sesama (KGK, no. 357). Artinya, manusia tidak dapat direduksi menjadi sekadar makhluk yang mampu berpikir dan menghasilkan informasi. Manusia juga merupakan pribadi yang memiliki kebebasan, tanggung jawab moral, dan keterbukaan terhadap Allah.

Dalam dokumen Dignitas Infinita, Gereja Katolik menegaskan bahwa martabat manusia bersifat tidak dapat dicabut karena berakar pada keberadaan manusia sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar Allah. Martabat manusia tidak bergantung pada kemampuan intelektual, produktivitas, atau pencapaian tertentu, melainkan melekat pada dirinya sejak awal keberadaannya (Dignitas Infinita art. 18). Oleh karena itu, perkembangan AI perlu dinilai berdasarkan apakah teknologi tersebut mendukung perkembangan manusia secara utuh atau justru mengurangi pemahaman manusia terhadap martabatnya.

Jika kembali pada ilustrasi Frater N dan pastor tersebut, kedua pandangan sebenarnya mengungkapkan persoalan yang perlu dipertemukan. Frater N melihat AI dari segi manfaat praktisnya, sedangkan pastor tersebut menekankan pentingnya autentisitas dan kejujuran akademik. Keduanya memiliki perhatian yang dapat dipahami. Namun, penggunaan AI tidak dapat langsung disamakan dengan hilangnya kreativitas, sebagaimana kemudahan teknologi juga tidak otomatis menjamin berkembangnya kreativitas. Oleh karena itu, hal yang menentukan kreativitas dalam menggunakan AI adalah bagaimana manusia menempatkan AI dalam proses belajarnya. Dalam arti ini, jika AI digunakan sebagai pengganti seluruh pemikiran pribadi, maka autentisitas karya dapat dipertanyakan. Namun, jika AI digunakan sebagai sarana untuk media diskusi. Maka, penggunaan AI dapat membantu mahasiswa berpikir kritis dalam proses pendidikan akademis.


Penutup


Pada akhirnya, pemikiran Marshall McLuhan membantu kita memahami bahwa AI adalah teknologi yang dapat membantu manusia berpikir dan berkarya. Namun, iman kita mengingatkan bahwa manusia diciptakan menurut citra Allah dan memiliki martabat, kebebasan, serta tanggung jawab yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu,

kita tidak perlu menolak AI, tetapi perlu menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab. AI dapat membantu mengembangkan kreativitas, tetapi manusia tetap harus berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil karyanya. Dengan menyadari bahwa manusia adalah citra Allah, kita perlu menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti manusia. Maka, pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: Apakah saya menggunakan AI untuk membantu saya mengerjakan tugas, atau justru membiarkan AI mengambil alih tanggung jawab saya?


Oleh: Fr. Christopher Mikael


Daftar Rujukan

  • Buku

McLuhan, Marshall. Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill, 1964.

  • Dokumen Gereja

Dikasteri untuk Ajaran Iman. Dignitas Infinita: Deklarasi tentang Martabat Manusia. Vatikan: Libreria Editrice Vaticana, 2024.

Konferensi Waligereja Indonesia. Katekismus Gereja Katolik. Ende: Nusa Indah, 1995. Konsili Vatikan II. Gaudium et Spes: Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern.

Vatikan, 1965.



Komentar


bottom of page