Mengalami Alam sebagai Cermin
- fr. Christopher Edgar

- 17 Jan
- 3 menit membaca
“Anak-anak, ayo kita menggambar,” ujar seorang guru SD.
Seketika anak-anak di kelas tersebut, mungkin lebih dari 3/4 kelas, pasti menggambar dua bukit, jalan di tengahnya, dan hamparan sawah di kanan-kirinya.

Halo sahabat seperjalanan! Pasti kita semua relate dengan gambar di atas, kan? Inilah gambar legend anak-anak TK atau SD yang umum dibuat.
Di pikiran anak-anak, pemandangan alam sama artinya dengan sepasang gunung, 2 buah sawah, dan sebuah jalan raya di bagian tengah. Alam diartikan sebagai hal yang identik dengan hal-hal di atas, bahkan dihitung jumlahnya.
Hal ini juga dapat terjadi dalam dunia orang dewasa, misalnya ketika seorang pengusaha melihat hutan sebagai sekumpulan stok (katakanlah 20 ribu) pepohonan besar atau laut sebagai habitat ribuan ikan-ikan. Pola pikir ini berbanding terbalik dengan masyarakat adat yang melihat hutan atau laut sebagai “rumah” dan “ibu”, tempat mereka bernaung dan menggantungkan hidupnya. Hal ini seringkali dilupakan oleh industri-industri besar yang dibaliknya terdapat keserakahan manusia yang tiada habisnya.
Pandangan sederhana di atas ternyata menimbulkan efek yang tidak sederhana. Muncul pandangan yang melihat alam hanya sebagai “bahan baku” yang dapat dipergunakan sesuai kebutuhan produksi. Pandangan semacam ini disebut juga sebagai pandangan utilitarianistik. Hilangnya hutan di Sumatera yang setara dengan 139 lapangan sepakbola per hari adalah salah satu dari banyak contoh yang terjadi belakangan ini (KOMPAS, 12-12-2025).
Dalam sudut pandang geografi manusia (human geography), B. Herry-Priyono menjelaskan arti “tempat” (place) dalam dua hal, yaitu sebagai realitas fisik sekaligus sebagai realitas mental. Tempat sebagai realitas fisik sama artinya dengan pandangan utilitarianistik di atas. Sebaliknya, tempat sebagai realitas mental disebut juga “peta mental” (mental maps). Artinya, seseorang memiliki pengalaman personal dengan tempat yang ia kunjungi atau lihat.
Sebagai contoh, Cipayung adalah kecamatan yang terletak di Kota Jakarta Timur (fisik). Namun, bagi para atlet pelatnas badminton, Cipayung lebih dari sekadar kecamatan. Di sana terdapat Pelatnas Cipayung, tempat bersejarah dulu mereka ditempa berbulan-bulan untuk menjadi atlet yang handal.
Hal ini dapat juga diterapkan ketika kita melihat alam. Alam adalah realitas mental yang daripadanya kita menerima dan mengalami segala yang baik, udara yang segar, keindahan alam, sayur-mayur, dan aneka satwa. Sahabat sekalian punya pengalaman apa nih dengan alam? Coba tulis di kolom komentar ya.
Ketika melihat alam ciptaan, St. Bonaventura (1221-1274) juga mengalaminya sebagai realitas mental. Baginya, alam dialami dan dimaknai sebagai “cermin” (speculum) dari dunia indriawi. Ibarat cermin, alam memantulkan “cahaya” kebesaran Allah pencipta. Dari alam, orang beriman dapat mengagumi keindahan, aktivitas, dan keberagamannya yang luar biasa.
Dari kekaguman tersebut, seseorang dapat dihantarkan pada kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Sahabat seperjalanan yang udah pernah naik gunung pasti pernah mengalaminya, kan?
Alam, menurut St. Bonaventura, adalah “pintu masuk” bagi perjalanan rohani seseorang. Mustahil jika seseorang meloncat langsung kepada hubungan manusia dengan Allah tanpa pertama-tama “masuk” lewat refleksi tentang alam. Dengan kata lain, iman dimulai dari sikap dan tindakan kita terhadap alam.
Pada akhirnya, alam perlu dialami sebagai peristiwa iman, bukan semata-mata dihitung apalagi dimanfaatkan sebagai bahan baku.
Sahabat seperjalanan yang terkasih, kita sebagai umat beriman Kristiani juga diajak untuk melihat alam sebagai realitas mental dan cermin. Iman dan kecintaan pada alam tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam rangka itu, Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Arah Dasar KAJ 2026, yaitu “Keutuhan Alam Ciptaan”.
Harapannya, setiap dari kita dapat menyumbangkan hal-hal sederhana yang dapat mengurangi, memperlambat, dan mencegah kerusakan lingkungan. Dalam lingkup Gereja, kita dapat bersusah-susah sedikit untuk menyediakan konsumsi secara prasmanan sehingga mengurangi sampah box dan alat makan plastik.
Dalam lingkup keluarga, kita dapat memulai untuk memilah sampah organik dan anorganik untuk membantu petugas kebersihan dalam mengumpulkan yang dapat didaur ulang. Dalam lingkup perorangan, kita dapat menggunakan kembali kantong plastik bekas, membawa tumbler pribadi ketika bepergian, dan membawa tas belanja sendiri.
Dengan demikian, kita dapat selalu mengucap syukur kepada Allah yang telah menciptakan alam dan segala isinya. Setiap tindakan kecil kita dalam merawat alam mendekatkan relasi kita dengan Sang Pencipta Alam Semesta. Semoga Roh Kudus menggerakkan dan memampukan kita melakukan hal-hal sederhana bagi bumi yang kita cintai, Amin.
“Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya Tuhan, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.” (Mazmur 92:5).
Penulis: Fr. Christofer Edgar L.
Referensi:
Herry-Priyono, B. Ilmu Sosial Dasar: Asal-usul, Metode, Teori, plus Dialog dengan Filsafat dan Teologi. Penerbit Buku Kompas, 2022.
St. Bonaventura Bagnoregio. Itinerarium Mentis in Deum. Diterjemahkan oleh Zachary Hayes. Franciscan Institute Publications, 2002.




Komentar