top of page

Merawat Kemanusiaan di Tengah Kendali Kecerdasan Buatan

1 jam yang lalu
3 menit membaca

Kementerian Kesehatan RI pada November 2025 menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) oleh generasi muda untuk menilai serta menduga gangguan kesehatan mental dan mengangkat risiko ketergantungan emosional akibat kebiasaan mencurahkan perasaan kepada chatbot. Pada ranah intelektual, Kompas.id pada Juni 2025 mengingatkan bahwa keluaran kecerdasan buatan dapat keliru meskipun disampaikan secara meyakinkan, sementara Kementerian Komunikasi dan Digital pada April 2026 menyoroti risiko melemahnya daya pikir kritis ketika proses analisis diserahkan kepada teknologi.

Integrasi kecerdasan buatan berisiko melemahkan kemandirian intelektual apabila digunakan secara berlebihan. Studi Jinrui Tian dan Ronghua Zhang menunjukkan hubungan antara ketergantungan kecerdasan buatan, kelelahan kognitif, dan menurunnya kemampuan berpikir kritis. Risiko ini semakin kompleks ketika teknologi dipandang seolah-olah memiliki otoritas yang tidak dapat dipertanyakan. Boris Rähme mengkaji cara narasi religius dan janji keselamatan yang dilekatkan pada kecerdasan buatan dapat mengaburkan pemahaman manusia tentang makna hidup dan martabat pribadinya. Dengan demikian, kecerdasan buatan tidak hanya persoalan intelektual, tetapi tantangan  kemandirian spiritual dan moral manusia.

Dalam ranah spiritualitas dan moralitas, perkembangan kecerdasan buatan menimbulkan pertanyaan tentang hakikat manusia sebagai Imago Dei (citra Allah) dan tanggung jawabnya dalam mengambil keputusan. Pauline Cheong dan rekan-rekannya menekankan pentingnya tata kelola kecerdasan buatan berbasis nilai melalui kesetiaan pada prinsip moral, kolaborasi, dan eksperimen yang bertanggung jawab. Karena itu, kecerdasan buatan perlu ditempatkan sebagai sarana pendukung, bukan pengganti hati nurani, kebebasan, dan tanggung jawab manusia. Penggunaannya harus tetap menghormati martabat manusia serta menjaga kemandirian intelektual, moral, dan spiritualnya.

Kecerdasan buatan dalam hakikatnya berusaha membantu manusia dalam menjalankan kehidupan. Setiap manusia didorong untuk memiliki daya pikir bertanggungjawab atas penggunaannya. Pola pikir, emosi, daya spiritualitas yang menjadi unsur kepribadian manusia pada saat ini berada pada kondisi awas untuk dicuri kemandiriannya. Setiap individu bisa saja tidak lagi menjadi pribadi yang otentik karena selalu terpengaruh oleh bias data yang ditawarkan kecerdasan buatan. Kemudahan informasi menuntun orang pada kenikmatan duniawi baru bahkan membentuk keputusan untuk menguasai segala sesuatu dengan mengerti dan memahami segala sesuatu tanpa ada daya kritis sekaligus momen mengambil jarak.

Manusia diciptakan oleh Sang Mahakuasa dengan perangkat yang begitu kompleks pada atribut dirinya. Intelek menuntun setiap manusia untuk memahami secara objektif sebuah kebenaran yang terukur dan bisa dibuktikan. Sisi emosi menghantar manusia pada keseimbangan rasa yang menempatkannya pada situasi yang bisa menyesuaikan dan menciptakan adaptasi untuk memiliki keseimbangan dalam bersikap. Pada akhirnya, sisi spiritualitas menciptakan kedamaian jiwa dan batin karena setiap manusia bersandar dan berharap pada Sang Pencipta yang Maha agung dan Maha besar. Manusia sadar ada kekuatan yang melingkupi mereka sehingga mereka sanggup untuk memahami situasi ciptaan lainnya.

Bayangkan sistem dan atribut orisinil milik manusia ini tidak lagi berfungsi dengan baik. Bahkan, semua diseragamkan secara sama oleh penggunaan kecerdasan buatan lewat algoritma ataupun tawaran informasi yang hanya disukai saja. Tidak ada lagi daya untuk terus mau belajar bahkan tidak muncul lagi cara atau metode dalam menyelesaikan masalah. Setiap manusia hanya meminta pada kecerdasan buatan untuk membantu menyelesaikannya dalam waktu  cepat dan tanpa menguji ketepatan jawaban yang ditawarkan. Sekali lagi, manusia terlena pada dosa digital yang membuatnya jatuh dalam jurang yang dalam karena kesalahan mereka untuk tetap berada pada kemudahan yang ada.

Perhatian dicuri dari diri manusia. Dia tidak lagi mampu mengambil jarak dan menemukan makna atas pertistiwa. Pribadi dalam komunitas bisa tidak lagi saling peduli. Rasa ingin tahu dan belajar hal baru tidak lagi berjalan bersama dengan perjuangan eskplorasi daya pikir yang memuaskan. Semua kemudahan itu membuat manusia lupa diri bahwa sudah ada kekuatan dalam dirinya yang menjadikannya istimewa sebagai makhluk ciptaan. Belum lagi ketidakstabilan emosi dan rasa yang bisa saja menghantarnya pada rasa bersalah, rendah diri, kecewa, dan iri hati. Ada pilihan-pilihan hidup yang dipilih bukan karena kebebasan tetapi lebih karena a lebih cepat dari yang lain ataupun berdasarkan keputusan algoritma yang sudah ditentukan.  Kepercayaan iman pada Sang Kuasa memudar dan tidak dihayati.  “Tuhan baru” diciptakan  teknologi karena bisa menjawab  persoalan, mendamaikan hati dengan afirmasi perasaan dserta ada jalan keluar baru yang lebih praktis dan bisa menyesuaikan kemampuan diri. Penderitaan pun bisa tidak dikenali dengan cara dan jalan yang baru karena ketiadaan solidaritas spiritual.

Harapan untuk mengembalikan manusia pada keajegan atribut Ilahi yang telah diberikan perlu mulai dipikirkan. Rencana dan strategi untuk memberikan metode penggunaan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab melalui pendasaran etis, teologis filosofis, sosio-kultural, psikologis, dan bermuara pada praksis menjadi sebuah janji yang harus ditepati. Larangan dan peraturan yang jelas merupakan bentuk nyata dari model penggunaan kecerdasan buatan yang mau diwujudkan. Selain itu, sebuah kesepakatan moral dan agama adalah jalan lain yang bisa ditempuh untuk mengembalikan dasar yang membawa kesadaran. 

Metode ilmiah yang tepat terus didukung untuk menemukan kebenaran dari masalah yang ada sekaligus  solusi praktisnya. Manusia di hadapan kecerdasan buatan dihantar pada daya pengendalian yang bijaksana, damai, dan objektif dalam penggunaannya untuk hidup sehari-sehari. Masalah yang ada bisa menjadi cara bertumbuh kembang dalam menatap dunia baru yang dikenali dan dihayati sebagai dunia kehidupan yang nyata, bukan bias seperti algoritma kecerdasan buatan.


Oleh: Fr. Hendryque Viliano Pambayun



Komentar


bottom of page