"Mengabdi pada Tuhan atau Mencari Pujian Manusia ?"
- Seminari Tinggi KAJ

- 10 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Bacaan : Matius 6:16-18
Saudara-Saudari yang terkasih,
Teman-teman terkasih hari ini kita merayakan Hari Rabu Abu menjadi tanda dimulainya masa Prapaskah masa pantang dan puasa selama 40 hari. Ketika saya membaca dan merenungkan bacaan Injil ini saya teringat momen ketika saya SMA mengikuti kejuaraan Taekwondo. 1 bulan sebelum kejuaraan dimulai pelatih menyuruh saya berpuasa makan makanan yang berminyak dan pantang untuk begadang dengan tujuan supaya stamina saya tetap terjaga saat kejuaraan nanti. Puji Tuhan setelah saya mengikuti arahan dari pelatih, saat kejuaraan saya mendapatkan mendali emas dan penghargaan sebagai atlet terbaik.
Dalam Perjanjian Lama, puasa adalah praktik umum selama masa berkabung, pertobatan, atau mencari bimbingan Tuhan (Setelah diperingatkan oleh Yunus Penduduk Niniwe Puasa - Yunus 3:5-10). Puasa merupakan cara umat beriman untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan sebagai ujud pertobatan dan kembali kepada Tuhan. Dalam perjanjian baru Matius 6:16-18 yang kita baca hari ini Yesus juga mengajarkan para pengikutnya untuk berpuasa dengan intensi yang baik dan benar. Yesus mengingatkan kita untuk tidak seperti orang-orang munafik. Istilah "orang munafik" mengacu pada mereka yang melakukan tindakan keagamaan untuk pertunjukan lahiriah daripada pengabdian yang tulus. Dalam konteks budaya zaman Yesus, para pemimpin agama sering mencari pengakuan publik atas kesalehan mereka. Yesus memperingatkan terhadap hal ini, menekankan ketulusan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan. Penampilan yang murung adalah tindakan yang disengaja untuk mendapatkan perhatian dan kekaguman dari orang lain, yang bertentangan dengan tujuan sebenarnya dari puasa. Tindakan-tindakan tersebut dimaksudkan untuk mencari simpati atau kekaguman orang lain, tetapi bersifat dangkal dan mengabaikan esensi spiritual dari puasa. Yesus mengkritik tindakan ini karena mencari validasi manusia daripada kehendak ilahi.
Motivasi di balik puasa orang-orang munafik adalah untuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang daripada untuk mencari Tuhan. Ini mencerminkan tema yang lebih luas dalam ajaran Yesus pentingnya kebenaran batiniah daripada penampilan lahiriah. Keinginan untuk dilihat oleh orang lain merusak manfaat spiritual dari puasa, yang seharusnya merupakan tindakan pribadi pengabdian kepada Tuhan.
Yesus menekankan bahwa mereka yang berpuasa untuk mendapatkan pengakuan publik telah menerima upah mereka dalam bentuk kekaguman dari manusia. Ini kontras dengan upah kekal yang datang dari Tuhan untuk tindakan iman yang tulus. Ucapan Yesus dalam Kitab Suci yang berbunyi "sesungguhnya Aku berkata kepadamu" menggarisbawahi kepastian dan otoritas Yesus sebagai sungguh Allah dan sungguh manusia. Konsep menerima "upahā di sini menyoroti kesia-siaan belaka mencari validasi duniawi yang bersifat sementara dibandingkan dengan upah surgawi yang bersifat kekal.
Puasa seharusnya merupakan tindakan pengabdian yang tulus kepada Tuhan, bukan pertunjukan untuk mengesankan orang lain. Fokus kita seharusnya pada Tuhan, bukan pada mendapatkan validasi dari manusia. Tujuan puasa adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan pertumbuhan spiritual. Kita perlu berusaha memeriksa motif kita dalam semua praktik spiritual, memastikan bahwa motif tersebut berakar pada keinginan untuk mengabdi Tuhan bukan untuk mengesankan orang lain. Disiplin spiritual sejati yang dilakukan secara rahasia dan dengan hati yang benar akan diberi upah yang kekal oleh Tuhan, berbeda dengan upah yang bersifat sementara berupa pujian dari manusia.
Sebagai bahan renungan, saya ingin menawarkan sebuah pertanyaan reflektif yang dapat kita refleksikan selama masa Prapaskah ini:
Ketika saya sedang melakukan tindakan spiritual (berdoa, berderma, berpuasa & berpantang) sesungguhnya saya ingin mengabdi pada Tuhan atau mencari pujian dari orang lain ?
Marilah kita hening sejenakā¦
Oleh :Fr. Vincensius Ardiyanto









Komentar