"Nazaret yang Kecil, Awal dari Karya Besar Allah"
- Seminari Tinggi KAJ

- 4 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Bacaan : Lukas 1:26-38
Sudara-Saudari yang terkasih,
ketika merenungkan Injil pada kali ini, perhatian saya justru tertuju pada satu bagian yang mungkin terlihat sederhana: bahwa Allah mengutus Malaikat Gabriel ke sebuah kota kecil bernama Nazaret.
Mungkin kita selalu mengetahui bahwa ketika kita mengidentikan antara Yesus dengan kesederhanaan, hal yang muncul adalah Betlehem. Kota tempat Yesus lahir. Pada bacaan kali ini, juga terdapat hal yang sama, yaitu Nazaret.
Nazaret pada masa itu bukan kota besar, bukan pusat kehidupan keagamaan, bukan tempat yang mempunyai pengaruh seperti Yerusalem. Antara nazaret dengan Yerusalem memiliki jarak lebih dari 150 Km, hal ini mempengaruhi perjalanan yang memerlukan 4-5 hari. Dari sini kita bisa melihat bahwa, orang-orang Nazaret adalah orang-orang yang jarang pergi ke tempat ibadah utama, yaitu Yerusalem. Hal ini dikarenakan kebutuhan pekerjaan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Contoh hari pada saat ini, jika mereka ingin berdoa di yerusalem pada hari minggu, sehingga mereka perlu berangkat pada hari rabu atau kamis. Disitulah terdapat hari rabu, kamis dan jumat yang mereka lewatkan padahal bisa untuk menjadi waktu bekerja. Sehingga, mereka hanya bisa pergi ke sinagoga di Nazaret dan mereka pergi ke yerusalem pada saat keagamaan, seperti Paskah, Pentakosta atau Pondok Daun. Bahkan dalam pandangan banyak orang, Nazaret hampir tidak memiliki nilai istimewa, karena pada Perjanjian Lama hampir tidak pernah kota Nazaret disebut. Namun Injil justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Allah tidak memilih tempat yang besar, tetapi tempat yang sederhana.
Hal ini dikarenakan, di kota kecil itu pula salam yang sangat agung terdengar: āSalam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.ā Salam ini juga menarik, karena datang sebelum penjelasan tentang tugas besar yang akan diterima oleh Maria. Sebelum Maria mengetahui bahwa ia akan mengandung dan melahirkan Sang Penyelamat, terlebih dahulu ia menerima sapaan rahmat.
Pilihan Allah tidak didasarkan pada kebesaran tempat, melainkan pada kebebasan kasih-Nya sendiri. Tempat kecil itu menjadi bermakna karena di sana ada ruang bagi kehendak Tuhan untuk bekerja. Kalau direnungkan kembali, mengapa harus Nazaret? Mengapa bukan kota kecil lain? Injil memang tidak memberi jawabannya secara langsung, tetapi justru kesederhanaan itu seperti mengajak kita melihat bahwa Kota Nazaret bukan penghalang bagi karya Allah. Bahkan bisa jadi justru dalam kesederhanaan, kehendak Tuhan lebih mudah tumbuh karena tidak banyak yang menutupi-Nya. Maka Nazaret bukan hanya soal letak geografis. Nazaret seperti menjadi gambaran tentang ruang batin yang sederhana, yang tidak penuh oleh kebesaran diri, sehingga sabda Tuhan bisa masuk dengan tenang.
Kalau direnungkan lebih jauh, mungkin setiap orang juga memiliki āNazaretā-nya sendiri: ruang hidup yang biasa, rutinitas yang sederhana, pengalaman yang tampak kecil, tetapi justru di situlah Tuhan diam-diam bekerja. Oleh karena itu, saya merangkum puncta pada hari ini menjadi 4 kata ajaib, āKesederhanaan Membuka Ruang Rahmat ā.
Karena ternyata yang membuat sesuatu menjadi besar bukan tempatnya, melainkan kehadiran Tuhan di dalamnya. Sehingga, Punctum yang hendak saya bagikan adalah, sudahkah aku cukup percaya bahwa dalam hal-hal kecil dan sederhana dalam hidupku, Tuhan juga sedang memulai sesuatu, dan sudahkah aku sungguh memberi ruang agar āNazaretā dalam diriku menjadi tempat bagi kehendak Allah.
Oleh : Fr. Gabriel Bhanu Indrastata





Komentar