"Pengampunan sebagai Simbol Kasih yang Tidak Terbatas"
- Seminari Tinggi KAJ

- 5 menit yang lalu
- 2 menit membaca
Bacaan : Matius 18:21–35
Saudara-saudari yang terkasih,
Dalam perjalanan hidup sebagai manusia, kita tentu membutuhkan kehadiran orang lain. Hal ini dapat dipahami karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kehadiran sesama membantu kita menjalani kehidupan, memudahkan kita dalam melaksanakan berbagai tugas, serta meringankan beban yang kita tanggung. Namun demikian, relasi dengan orang lain tidak selalu berjalan mulus. Tidak jarang muncul konflik yang disebabkan oleh kesalahpahaman ataupun tindakan yang saling melukai.
Dalam bacaan Matius 18:21–35, Yesus mengajak kita untuk mengampuni sesama yang telah berbuat salah kepada kita. Ajakan untuk mengampuni inilah yang menjadi inti pesan dari bacaan tersebut. Namun, bagi saya, tuntutan ini terasa cukup sulit, bahkan terkesan ekstrem untuk dilakukan. Mengapa demikian? Hal ini menjadi sangat menantang ketika kesalahan yang dilakukan oleh orang lain sangat merugikan kita. Terlebih lagi jika perbuatan tersebut terjadi berulang-ulang, sehingga timbul rasa enggan untuk mengampuni dan perlahan-lahan hilanglah kepercayaan terhadap orang tersebut.
Pernyataan ini mungkin terdengar berat untuk diterima, tetapi itulah realitas yang sering kita alami, terlebih ketika kita hidup dalam sebuah komunitas yang menuntut komunikasi dan interaksi yang intens. Lalu, bagaimana kita menghadapinya? Setidaknya ada beberapa poin refleksi yang dapat ditawarkan. Pertama, tindakan mengampuni membutuhkan keterbukaan hati yang tulus. Kedua, tindakan mengampuni tidak didasarkan pada pertimbangan materi ataupun keuntungan pribadi. Ketiga, tindakan mengampuni merupakan simbol dari kasih yang tidak terbatas. Dalam iman Kristiani, Yesus sendiri telah menunjukkan kasih yang tak terbatas itu melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Ia menebus dosa manusia tanpa memilih-milih siapa yang layak diampuni atau diselamatkan. Kasih-Nya melampaui batas-batas manusiawi dan menjadi teladan bagi kita untuk belajar mengampuni sesama. Yesus telah lebih dahulu mencintai dan mengampuni kita tanpa syarat. Maka, pantaskah kita menolak untuk mengampuni sesama kita?
Hal ini dapat diibaratkan seperti sebuah tim sepak bola yang gagal dalam sebuah turnamen. Salah satu pemain mendapatkan banyak kesempatan untuk mencetak gol, tetapi peluang-peluang tersebut tidak berhasil dimanfaatkan dengan baik. Kegagalan itu akhirnya menjadi salah satu penyebab kekalahan tim. Lalu, apa yang akan terjadi jika dalam tim tersebut tidak ada sikap saling mengampuni? Bukankah yang akan muncul justru kekecewaan, konflik, dan kekacauan yang membuat tim semakin jauh dari kemenangan? Karena itu, pertanyaan reflektif bagi kita adalah: sejauh mana aku sungguh-sungguh memaafkan temanku? Apakah aku mengampuninya hanya karena keadaan menuntutku untuk tetap berada dalam satu tim, ataukah aku benar-benar mengampuninya sebagai wujud kasih yang tulus dari hati?
Oleh :Fr. Javier Soga Dema





Komentar